Wajah Kaum Tsamud Menghitam: Kisah Nabi Shalih dan Mukjizat Unta Betina
Sejak di sekolah kita sudah sering sekali mendengarkan para guru berkisah tentang mukjizat Nabi Shalih tentang unta betina yang mempunyai perilaku aneh. Kaum Tsamud yang menerima azab mengerikan pun juga sudah banyak diceritakan.
Namun, nggak banyak orang tahu bahwa detik-detik sebelum adzab terjadi ternyata kaum Tsamud mengalami fenomena ganjil. Ada pula seorang penyintas yang ternyata berhasil selamat dari peristiwa mengerikan ini namun akhir hidupnya tidak kalah tragis.
Bagaimana fenomena tersebut dan bagaimana akhir tragis si penyintas? baca selengkapnya di bawah ini! bikin geleng-geleng kepala.
1. Peradaban Kaum Tsamud

Populasi manusia yang tinggal di bebatuan besar dengan pertanian mininya. (image by chatgpt)
Kaum Tsamud adalah bangsa Arab asli yang tinggal di daerah pegunungan di antara Hijaz dan Tabuk. Rasulullah SAW., pernah melewati daerah tersebut ketika beliau berangkat ke Tabuk bersama beberapa orang muslim yang menyertai beliau.

Peta yang menunjukkan lokasi Kaum Tsamud tinggal. (Image by chatgpt)
Tempat tinggal Kaum Tsamud benar-benar unik, strategis, dan dikelilingi benteng alami berupa batuan terjal sehingga aman dari serangan musuh. Jika manusia biasa memecah batuan menjadi kecil untuk dijadikan pondasi, maka Kaum Tsamud lebih mind-blowing lagi. Mereka jadikan batuan tersebut untuk tempat tinggal dengan cara memahat, melubangi, dan mengisinya dengan interior-interior sederhana seperti kulit domba, rerumputan, dan senjata.
Oleh karena itu, Kaum Tsamud disebut juga sebagai Al Hijr atau kaum yang memakai bebatuan besar sebagai rumahnya.

Sekelompok manusia terlihat mengukir bongkahan batu. (image by chatpgt)
Asal kata Tsamud adalah nama seseorang yang bernama Tsamud. Tsamud mempunyai saudara bernama Judais. Keduanya adalah putra dari Abir bin Iram bin Sam bin Nuh. Kaum Tsamud sendiri muncul setelah binasanya peradaban kaum ‘Aad yang telah Allah Azab karena kedurhakaannya kepada Nabi Hud as.
Mata pencaharian Kaum Tsamud adalah menggembala dan bertani. Sumber mata air mereka berasal dari sumur yang terus menerus mengeluarkan air di tengah gersangnya padang pasir.
Mereka menggantungkan air dari sumur tersebut untuk minum, mencuci pakaian, irigasi, air minum ternak, dsb. Sangat berat bagi mereka jika sampai sumur ini kering.
2. Berhala yang dituhankan

Berhala di tengah perkampungan Arab kuno. (image by chatgpt)
Kaum Tsamud mengisi kekosongan spiritualnya dengan cara menyembah berhala. Sebelum berangkat kerja, sepulang dari bekerja, minta keberuntungan, sampai minta anakpun mereka menghadap berhala.
Disinilah Nabi Shalih as. diutus untuk meluruskan ajaran sesat bin kafir Kaum Tsamud. Seperti biasa, penolakan, pelecehan, penghinaan, dan cemoohlah yang didapat seorang Nabi jika pertama kali berdakwah di tengah-tengah sebuah kaum penyembah berhala.
Kaum Tsamud tidak sebodoh yang kita kira bahwa mereka nggk tahu siapa itu Allah. Hanya saja, mereka sangat malas untuk mengganti tuhan mereka dengan tuhan yang tidak terlihat. Kaum Tsamud juga mengerti siapa Kaum ‘Aad dan alasan mengapa mereka diazab oleh Allah.
Namun, karena mereka tidak mengalaminya sendiri bagaimana azab tersebut terjadi dan jangka waktunya juga sudah lama, makanya mereka tidak percaya apa yang dikatakan oleh Nabi Shalih.
3. Segelintir pengikut

Sekelompok orang yang sedang mengamuk pada sesuatu. (image by chatgpt)
Penolakan demi penolakan semakin memanas. Meskipun begitu, Nabi Shalih berhasil menarik beberapa pengikut untuk menyembah Allah dari kaum yang lemah, miskin, dan tersisihkan dalam lingkup sosial.
Para pemuka-pemuka dan pembesar masyarakat dari kaumnya yang menyombongkan diri dan angkuh berkata dengan nada ejekan untuk menanamkan keraguan kepada orang-orang yang dianggap lemah, yaitu orang-orang yang telah beriman di antara kaumnya,
“Tahukah atau percayakah kamu bahwa Saleh adalah seorang rasul dari Tuhannya yang diutus untuk menyampaikan risalah?”
Mereka, orang-orang yang beriman, menjawab dengan tegas, “Sesungguhnya kami benar-benar percaya kepada apa, yakni risalah, yang disampaikannya, yakni Nabi Saleh, kepada kami, karena petunjuk-petunjuk itu benar dan datangnya dari Allah.”
4. Kaum Tsamud minta mukjizat

Seekor unta betina yang muncul dari dalam batu beserta anaknya. (image by chatgpt)
Karena ocehan busuk dari pembesar Tsamud tak bisa menggoyahkan iman para pengikut Nabi Shalih, maka mereka menggunakan cara terakhir yaitu meminta sebuah mukjizat jika Nabi Shalih benar-benar utusan Tuhan.
Mukjizat yang mereka minta pun sangat nyeleneh berupa kemunculan seekor unta bukan dengan cara dilahirkan seperti pada umumnya, melainkan muncul dari dalam batu.
Nabi Shalih as. menyanggupinya. Beliau segera melakukan shalat 2 raka’at, berdoa kepada Allah SWT, dan meminta kepada Allah untuk dianugerahi mukjizat sesuai dengan permintaan Kaum Tsamud. Sebongkah batu yang cukup besar tiba-tiba retak dan dari dalamnya muncul seekor unta betina yang gemuk dan sehat beserta 1 anaknya.
Artikel lainnya:
- Intip Proses Pembuatan Bahtera Nabi Nuh, Menakjubkan!
- Imam Syafi’i: Diseret Ribuan kilometer Karena Fitnah Keji
- Dark History: Al Walid Si Penyuka Sesama Jenis (LGBT)
5. Konsekuensi

Seekor unta betina yang minum air dari sebuah sumur. (image by chatgpt)
Karena mukjizat yang diminta sudah muncul, Nabi Shalih mengajukan beberapa syarat sebagai konsekuensi sekaligus ujian kepada Kaum Tsamud. Beberapa syarat tersebut adalah:
- Kaum Tsamud dilarang keras menganggu unta betina ini;
- Kaum Tsamud dilarang keras mengambil air di hari yang sama ketika unta betina minum dari sumur utama. Sebagai balasannya, Kaum Tsamud bebas mengambil susu dari unta betina ini. Susu yang diambil dijamin akan mencukupi kebutuhan Kaum Tsamud untuk menghilangkan dahaga.
Hari demi hari berjalan. Kaum Tsamud selalu memandang sinis unta mukjizat ini karena jika dia minum di hari itu maka Kaum Tsamud tak akan bisa mengairi lahan pertanian dan memberi minum ternaknya.
6. Rencana pembunuhan

Sekelompok orang yang terlihat menyusun rencana misterius. (image by gemini)
Para pemimpin Tsamud segera mengadakan pertemuan untuk membuat rencana menghabisi untanya Nabi Shalih.
Ibnu Jarir dan para ulama’ ahli tafsir menyebutkan bahwa dulunya ada 2 wanita.
Wanita pertama adalah janda kaya raya dan cantik bernama Shaduq binti al Mihya. Dia menawarkan kepada seorang pemuda bernama Masda’ bin Mahraj untuk membunuh untanya Nabi Shalih dengan bayaran Masda’ bisa menikahinya dan seluruh harta kekayaannya bisa ia miliki. Masda’ pun menyetujuinya.
Wanita kedua bernama Unaizah binti Ghunaim. Seorang wanita tua kafir namun memiliki beberapa putri yang sangat cantik jelita. Si tua kafir ini menawarkan kepada Qidar bin Salif untuk membunuh untanya Nabi Shalih dengan bayaran bisa menikahi salah satu anaknya dan tentunya si Qidar menyanggupinya.
Maka, berangkatlah Masda’ dan Qidar bersama 7 orang lainnya dengan total ada 9 orang pembunuh. Mereka bersembilan juga melakukan kerjasama dengan kabilah lain untuk mengumpulkan informasi.
Ketika si unta sudah mencapai jangkauan para pembunuh ini, Masda’ melesatkan anak panahnya tepat mengenai tulang betis dan membuat si unta tersungkur. 7 pembunuh lain segera meringkus dan menyumpal mulut si unta betina. Unaizah yang melihat kejadian ini segera menunjukkan salah satu anaknya kepada Qidar dan hal ini membuat Qidar semakin kesetanan.
Qidar segera menggorok leher unta betina ini hingga urat lehernya putus sementara yang lain juga memotong dagingnya. Si anak unta betina segera lari menuju ke atas gunung dan menjerit 3 kali kemudian menghilang dengan masuk ke dalam batu. Ada juga yang meriwayatkan bahwa si anak juga diburu dan dibunuh saat itu juga.
7. Ultimatum menyambut azab

Seseorang yang terlihat menyampaikan sesuatu di tengah perkampungan. (image by gemini)
Kaum Tsamud yang berbangga setelah membunuh untanya Nabi Shalih dengan lagaknya yang sombong menantang Nabi Shalih untuk mendatangkan azab seperti yang beliau dakwahkan selama ini. Hal ini terdokumentasi jelas dalam Al Qur’an yang berbunyi:
فَعَقَرُوا النَّاقَةَ وَعَتَوْا عَنْ اَمْرِ رَبِّهِمْ وَقَالُوْا يٰصٰلِحُ ائْتِنَا بِمَا تَعِدُنَآ اِنْ كُنْتَ مِنَ الْمُرْسَلِيْنَ ٧٧
Mereka memotong unta betina itu dan mereka melampaui batas terhadap perintah Tuhan mereka, dan mereka berkata, “Wahai Saleh, datangkanlah kepada kami apa (ancaman siksa) yang engkau janjikan kepada kami jika engkau termasuk orang-orang yang diutus (Allah).” (QS. Al A’raf: 77)
Nabi Shalih segera menyampaikan ultimatumnya bahwa setelah 3 hari mulai besok (sekarang hari rabu) maka azab yang mereka damba-dambakan akan segera datang dan bersukarialah untuk menyambut azab tersebut.
Setelah memberikan ultimatum, Nabi Shalih beserta pengikutnya yang beriman segera mengungsi menuju wilayah yang jauh dari jangkauan azab karena mereka telah mencium rencana bahwa Kaum Tsamud juga akan menghabisi Nabi Shalih beserta seluruh pengikutnya yang beriman.
Artikel lainnya:
- Intip Proses Pembuatan Bahtera Nabi Nuh, Menakjubkan!
- Imam Syafi’i: Diseret Ribuan kilometer Karena Fitnah Keji
- Dark History: Al Walid Si Penyuka Sesama Jenis (LGBT)
- Nabi Handzalah & Kaum Rass: Kisah Kelam Tentang Sumur Rass
- Ja’far Al-Manshur: Kemajuan Daulah Abbasiyah Dengan Kontroversi Di Belakangnya
8. Wajah Kaum Tsamud menghitam dan datangnya azab yang mengerikan

Wajah seseorang yang menghitam dengan rasa cemas. (image by gemini)
Pada hari kamis (H-3 datangnya azab), wajah Kaum Tsamud tiba-tiba menguning dan mereka berkata bahwa hari tersebut sudah masuk hitungan hari menuju azab.
Pada hari jum’at (H-2 datangnya azab), wajah Kaum Tsamud berubah lagi menjadi kemerahan dan mereka berteriak bahwa azab akan segera datang.
Pada hari sabtu (H-1 datangnya azab), Kaum Tsamud mengadakan pesta pora menyambut azab. Disinilah wajah mereka berubah warna lagi seakan menghitam. Disini mereka duduk-duduk santai sambil memendam rasa cemas dan takut yang teramat sangat akan azab yang telah dijanjikan oleh Nabi Shalih.
Tepat setelah matahari terbit di ufuk timur pada hari minggu, terdengarlah suara yang amat sangat keras sekaligus mengerikan dari atas langit. Peristiwa ini disusul gempa yang amat dahsyat yang mengguncang pemukiman Kaum Tsamud hingga luluh lantak. Keadaan menjadi hening seakan membisu, semuanya telah berubah menjadi bangkai baik kecil maupun besar, tua atau muda, anak kecil atau orang dewasa, semuanya mati mengenaskan.
Mayat-mayat terbujur kaku dan mengenaskan sesuai dalam QS. Al A’raf ayat 78 yang berbunyi:
فَاَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ فَاَصْبَحُوْا فِيْ دَارِهِمْ جٰثِمِيْنَ ٧٨
Maka, gempa (dahsyat) menimpa mereka sehingga mereka menjadi (mayat-mayat yang) bergelimpangan di dalam (reruntuhan) tempat tinggal mereka.
9. Penyintas yang berakhir tragis

Seorang wanita tua yang sedang minum. (image by gemini)
Namun, ada seorang penyintas bernama Kalbah binti As Salqi. Seorang wanita tua kafir dari kalangan budak yang sangat membenci Nabi Shalih. Tak ada riwayat yang mengatakan bagaimana dia bisa selamat. Setelah melihat peristiwa mengerikan yang menimpa kaumnya, dia segera pergi meninggalkan Al Hijr menuju perkampungan di Arab.
Disana ia menceritakan seluruh apa yang dilihatnya. Karena tiba-tiba haus, dia meminta air putih kepada penduduk disana. Setelah meminum air, tiba-tiba dia tergeletak dan meninggal seketika menyusul kaumnya yang kafir dan durhaka ke neraka.
Hikmah:
Kisah kaum Tsamud adalah pengingat yang kuat tentang akibat dari kesombongan, penolakan, dan ketidaktaatan kepada Tuhan. Meskipun mereka diberikan mukjizat unta betina sebagai bukti kebenaran dari Nabi Shaleh, mereka justru memilih untuk membunuhnya, sebuah tindakan yang mencerminkan kerasnya hati dan penolakan mereka terhadap kebenaran. Hikmah yang mendalam dari kisah ini adalah bahwa keberadaan mukjizat tidak menjamin keimanan, terutama bagi mereka yang hatinya sudah buta oleh kesombongan.
Kaum Tsamud memiliki kemampuan untuk memahat gunung menjadi rumah yang megah, menunjukkan kekuatan dan kemajuan teknologi mereka. Namun, kemampuan material dan kekuasaan tidak bisa menyelamatkan mereka dari azab Tuhan ketika mereka melanggar perjanjian dan batas-batas moral. Kisah ini mengajarkan bahwa kehancuran suatu kaum sering kali datang dari dalam, yaitu dari kerusakan moral dan spiritual yang mengikis fondasi masyarakat, jauh sebelum kehancuran fisik terjadi.
Referensi:
Kitab Bidayah Wa An Nihayah Karya Ibnu Katsir





