Malaikat Zabaniyah: Kengerian Sang Penyiksa Alam Neraka

Jika Malaikat Malik adalah penjaga neraka, maka Zabaniyah sebagai ahli siksanya

Ketika Isra’ Mi’raj, Nabi Muhammad SAW sempat diperlihatkan wujud Malaikat Malik sang penjaga neraka. Makhluk Allah yang dianugerahi sebagai penjaga tempat dimana untuk menyiksa manusia-manusia dengan ragam jenis dosa dan kesalahan yang dimilikinya.

Tapi, tahukah kalian? dalam menjalankan tugasnya, Malaikat Malik tidak sendirian. Ada malaikat bernama Zabaniyah, yaitu malaikat berwatak kasar, keras, dan tak kenal ampun yang secara khusus menyiksa orang-orang yang berada di alam neraka dengan kadar siksaan yang telah ditentukan. Bagaimana kengerian dan kebengisannya? simak penjelasan di bawah ini!

1. Dalil adanya malaikat Zabaniyah

Makhluk jangkung berjubah hitam dengan ular besar

Malaikat Zabaniyah disebut dalam QS. Al Alaq: 18 yang berbunyi:

سَنَدْعُ الزَّبَانِيَةَۙ ۝١٨

Artinya: Kelak Kami akan memanggil (Malaikat) Zabaniah (penyiksa orang-orang yang berdosa).

Dalam Tafsir Munir, Wahbah menyebutkan riwayat dari Ibnu Abbas yang mengatakan: seandainya orang-orang yang disiksa ini memanggil kawan-kawannya untuk memberontak, lari, atau melawan. Maka Malaikat Zabaniyah akan tetap mengambil mereka semua dan menyiksanya dengan terang-terangan.

2. Malaikat Malik

Alam neraka yang menyimpan banyak siksaan dan kengerian

Manshur bin Ammar menuturkan bahwa Malaikat Malik memiliki tangan dan kaki sebanyak jumlah seluruh penghuni neraka. Setiap anggota tubuhnya bukan sekadar berdiri atau duduk, melainkan mampu membelenggu dan merantai siapa pun yang ditetapkan baginya dengan kekuatan yang tak tertandingi.

Disebutkan pula, saat tatapan Malaikat Malik diarahkan ke neraka, api yang berkobar di dalamnya saling melahap satu sama lain, seakan gentar oleh wibawa dan kedahsyatan pandangannya.

3. Wujud Malaikat Zabaniyah

Penjaga suatu alam yang memiliki tangan super panjang seakan berperan menjadi penjaga

Jumlah Malaikat Zabaniyah ada 19, sebagaimana jumlah huruf dalam Basmalah. Mereka menangani para penghuni neraka dengan kekuatan kaki dan tangannya, sebab setiap bagian tubuh mereka mampu mengenali sebagaimana halnya tangan mengenali sentuhan.

Dikisahkan, satu Malaikat Zabaniyah mampu menggenggam sepuluh ribu orang kafir dengan satu tangan, sepuluh ribu lainnya dengan tangan yang lain, sepuluh ribu dengan salah satu kakinya, dan sepuluh ribu lagi dengan kaki satunya. Dalam sekali gerakan, empat puluh ribu orang kafir dapat diangkat lalu dilemparkan ke dalam neraka. Begitu besar daya dan kemampuan yang dikaruniakan pada mereka.

Adapun pemimpin seluruh Malaikat Zabaniyah adalah Malaikat Malik. Di bawahnya terdapat delapan belas malaikat yang serupa dengannya, masing-masing memimpin barisan para penjaga neraka yang jumlahnya tidak terhitung, kecuali Allah SWT yang mengetahui.

BACA ARTIKEL LAIN:

4. Ukuran Malaikat Zabaniyah

Makhluk dengan bentuk tubuh aneh menyeringai ke arah bawah

Pandangan para malaikat Zabaniyah laksana kilat yang menyambar tajam dan membelah gelapnya alam, gigi-gigi mereka menyerupai tanduk sapi yang keras dan kokoh, sementara bibir mereka menjulur panjang hingga menyentuh telapak kaki. Dari mulut-mulut mereka memancar kobaran api yang menyala-nyala, dan jarak antara kedua bahunya seperti perjalanan panjang selama satu tahun. Dalam hati mereka tidak terdapat sebutir pun rasa kasih, tidak pula kelembutan sekecil semut, hanya ketegasan dan ketaatan mutlak kepada perintah Allah.

Di antara mereka ada yang menyelam di lautan api neraka selama tujuh puluh tahun lamanya, namun sedikit pun tidak tersentuh bahaya, sebab cahaya yang dikaruniakan Allah kepada mereka lebih kuat dan lebih unggul dari panasnya neraka itu sendiri. Maka kami berlindung kepada Allah SWT dari murka dan api neraka-Nya yang menyala tanpa henti.

Hikmah:

Jika malaikat saja tunduk sepenuhnya kepada perintah Allah tanpa membantah, maka betapa kecilnya alasan kita untuk bermalas-malasan dalam ketaatan. Betapa nistanya bila hati manusia yang lemah ini justru sombong dan enggan bersujud.

Merenungi gambaran mereka yang mampu menyelam dalam api tanpa terluka seharusnya menumbuhkan rasa takut sekaligus kagum—bahwa cahaya ketaatan bisa mengalahkan panasnya neraka. Maka marilah kita memperkuat iman, membersihkan hati, dan memperbanyak amal baik sebelum datang hari di mana malaikat Zabaniyah menunaikan tugasnya tanpa ampun.

REFERENSI:

Kitab Daqaiqul Akhbar karya Syaikh Abdurrahim bin Ahmad Al Qadhi

6 Hal dari Malaikat Maut: Rahasia Pencabutan Ruh dan Keajaiban Penciptaannya

Malaikat Maut punya banyak kuasa yang tak dimiliki malaikat lain

Malaikat Izrail termasuk dalam 4 malaikat utama yang mengemban tugas penting selama alam jagat raya masih berjalan yaitu mencabut ruh makhluk. Dalam kitab DAQAIQUL AKHBAR: fi Dzikri Jannah wa Nar karya Syaikh Abdurrahim bin Ahmad Al Qadhi, Malaikat Izrail digambarkan dengan tubuh yang memiliki level berbeda.

Tak hanya itu, ada hal-hal menakjubkan terkait malaikat Izrail seperti rahasia pencabutan ruh, bagaimana proses manusia mendekati kematian, dan keajaiban buku kematian makhluk. Untuk lebih lengkapnya, simak penjelasan di bawah ini!!

1. Keajaiban Penciptaan Izrail

Makhluk kosmik dengan ribuan hijab menutupinya

Dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW menggambarkan sosok Malaikat Maut dengan cara yang sulit dibayangkan oleh nalar manusia. Dikisahkan bahwa ketika Allah menciptakannya, Ia menutupinya dengan ribuan lapisan hijab yang ukurannya melampaui langit dan bumi.

Disebutkan pula, seandainya seluruh air dari lautan dan sungai ditumpahkan di atas kepalanya, maka tak setetes pun akan jatuh ke bumi. Gambaran ini menunjukkan betapa luas dan kompleks wujudnya, hingga tidak dapat dibandingkan dengan ukuran fisik dunia.

Bahkan, bila seluruh bentang bumi dari timur ke barat berada dalam genggamannya, maka baginya dunia itu hanya seumpama meja kecil dengan hidangan yang bisa dipindah sesuka kehendak. Malaikat Maut dapat memperlakukan dunia sebagaimana manusia mempermainkan sebuah koin di tangannya.

2. 70.000 Rantai

Makhluk misterius yang sedang dirantai

Dalam sebuah riwayat disebutkan, Malaikat Maut berada dalam keadaan terikat dengan 70.000 rantai. Setiap rantai memiliki panjang sebanding dengan perjalanan 1.000 tahun.

Keberadaannya terpisah dari para malaikat lain. Tidak ada satu pun malaikat yang mampu mendekat kepadanya, mengetahui keadaan dirinya, ataupun mendengar suaranya. Ia berada dalam ranah yang tersembunyi, terjaga dari penglihatan makhluk lain sampai kapan pun juga.

3. Dipan Malaikat Maut

Makhluk yang memiliki mata dan wajah di sekujur tubuhnya

Dalam kitab As-Sulūk karya Muqatil bin Sulaiman disebutkan bahwa Malaikat Maut memiliki singgasana yang berada di langit ketujuh meskipun ada riwayat lain yang menyebut di langit keempat. Singgasana itu terbuat dari cahaya, ditopang oleh tujuh puluh ribu kaki, dan Malaikat Maut sendiri memiliki empat ribu sayap. Seluruh jasadnya dipenuhi dengan mata dan lisan.

Dijelaskan pula, setiap anak keturunan Adam maupun burung yang bernyawa memiliki perwakilan rupa pada diri Malaikat Maut: berupa mata, wajah, tangan, dan telinga. Dengan itu, Malaikat Maut mampu mencabut nyawa melalui tangannya dan melihat makhluk dengan wajahnya, tanpa terikat ruang dan jarak.

Ketika seseorang wafat, maka gambaran dirinya pun hilang dari jasad Malaikat Maut.

BACA ARTIKEL LAIN:

4. Punya 4 wajah di tempat berbeda

Sesosok makhluk jangkung dengan wajah di beberapa bagian tubuhnya

Terdapat riwayat yang menyebutkan bahwa salah satu kaki Malaikat Maut berada di atas surga, sementara kaki lainnya menapak di atap neraka Jahanam. Posisi ini melambangkan tugasnya yang mencakup seluruh makhluk, dari yang berbahagia hingga yang celaka.

Dijelaskan pula bahwa Malaikat Maut memiliki empat wajah. Wajah yang berada di kepalanya digunakan untuk mencabut ruh para nabi dan malaikat. Wajah di bagian depan untuk mencabut ruh orang-orang beriman, wajah di punggung untuk mencabut ruh orang-orang kafir, sedangkan wajah yang berada di bawah telapak kakinya ditugaskan mencabut ruh bangsa jin.

5. Tak pernah turun ke bumi

Makhluk kosmik bertubuh titan seperti akan menginjak bumi

Dikatakan bahwa Malaikat Maut tak pernah turun ke bumi kecuali untuk mencabut nyawa para nabi dan rasul. Ia memiliki wakil yang ditugaskan mencabut ruh binatang buas maupun binatang melata.

Disebutkan pula, apabila Allah SWT menghendaki kehancuran makhluk, maka cukup dengan membinasakan mata-mata yang terdapat pada jasad Malaikat Maut, dan seluruh makhluk pun akan musnah.

Kelak, ketika sangkakala ditiup dan semua makhluk mati, yang tersisa hidup hanyalah delapan: Israfil, Mikail, Jibril, Izrail, serta empat malaikat yang memikul Arasy.

6. Prosedur pencabutan nyawa

Sebuah pohon yang amat sangat besar dengan daunan berguguran

Dijelaskan bahwa pengetahuan tentang akhir ajal seseorang berawal ketika Malaikat Maut memperoleh catatan kematian dan keadaan sakit yang menimpa seorang hamba. Namun kepastian waktu dan kondisi pencabutan ruh tetap merupakan bagian dari ilmu gaib yang hanya diketahui oleh Allah SWT.

Tanda-tanda ajal seseorang baru tampak ketika malaikat yang menjaga jasad dan amalnya datang kepada Malaikat Maut dan menyatakan bahwa nafasnya telah sempurna. Begitu pula malaikat yang bertugas mengatur rezeki dan amalnya menyampaikan bahwa rezeki serta amalnya telah selesai.

Disebutkan bahwa pengetahuan Malaikat Maut belum sempurna untuk mencabut nyawa hingga jatuh kepadanya sehelai daun dari pohon yang berada di bawah Arsy. Pada daun itu tertulis nama orang yang akan dicabut nyawanya.

Diriwayatkan dari Ka‘ab al-Ahbar bahwa Allah Ta‘ala menciptakan sebuah pohon di bawah Arsy dengan jumlah daun sebanyak bilangan seluruh makhluk-Nya. Ketika ajal seseorang telah dekat, empat puluh hari sebelumnya, daun yang memuat namanya akan jatuh di hadapan Malaikat Maut.

Dengan demikian, Izrail mengetahui bahwa ia diperintahkan mencabut ruh pemilik daun tersebut. Sejak saat itu, di langit orang itu sudah tercatat sebagai mayit, meskipun di bumi ia masih hidup hingga empat puluh hari kemudian.

Referensi:

Kitab Daqaiqul Akhbar Fi Dzikri Jannati Wan Nar karya Syaikh Abdurrahim bin Ahmad Al Qadhi

Padang Tih: Kisah Bani Israil yang Pengecut Dibuang ke Padang Pasir Tanpa Bisa Keluar

Masa hukuman Bani Israil karena menjadi pengecut sebelum perang

Setelah peristiwa besar kemukjizatan Nabi Musa AS dalam membelah lautan, Bani Israil yang sudah berpindah dari Mesir segera menuju negeri Baitul Maqdis. Dan seperti biasa, dimanapun berada Bani Israil selalu saja membuat masalah yang membuat mereka dibuang ke tempat terasing. Bagaimana kisahnya? simak di bawah ini!

1. Bani Israil yang Pengecut

Beberapa penduduk kuno yang ketakutan melihat tentara berbadan tegap dan gagah

Nabi Musa selepas meninggalkan Mesir, beliau segera mengarahkan pengikutnya menuju Baitul Maqdis, Yerussalem. Tak disangka, di tempat itu ternyata telah bermukim beberapa suku: Haitsan, Fazzar, dan Kan’an dimana postur tubuh mereka tegap dan siap tempur jika berperang. Parahnya, orang-orang ini tak bertauhid alias penganut paganisme.

Nabi Musa AS segera menyiapkan Bani Israil untuk bertempur guna membersihkan daerah suci ini dari kaum paganis. Alih-alih mempersiapkan peralatan perang, Bani Israil dengan pengecutnya justru menyuruh Nabi Musa AS maju sendirian. Hal ini termaktub dalam QS. Al Maidah Ayat 24:

قَالُوْا يٰمُوْسٰٓى اِنَّا لَنْ نَّدْخُلَهَآ اَبَدًا مَّا دَامُوْا فِيْهَاۖ فَاذْهَبْ اَنْتَ وَرَبُّكَ فَقَاتِلَآ اِنَّا هٰهُنَا قٰعِدُوْنَ ۝٢٤

Mereka berkata, “Wahai Musa, sesungguhnya kami sampai kapan pun tidak akan memasukinya selama mereka masih ada di dalamnya. Oleh karena itu, pergilah engkau bersama Tuhanmu, lalu berperanglah kamu berdua. Sesungguhnya kami tetap berada di sini saja.”

BACA ARTIKEL LAIN:

2. Dibuang ke Padang Tih

Sekelompok manusia yang terlantung-lantung di padang pasir

Sebab inilah Bani Israil mendapat hukuman oleh Allah berupa ditelantarkan ke Padang Tih selama 40 tahun dan mereka hanya berputar-putar disana. Padang Tih adalah hamparan padang pasir tak berujung, tandus, dan jarang ada flora yang tumbuh. Bani Israil yang fasik ini hanya bisa berjalan tanpa tujuan, malam, siang, pagi, dan sore hanya bisa berjalan dan berjalan.

Selama 40 tahun ini pula tak ada seorang pun yang bisa keluar melainkan 2 orang yaitu Yusa’ & Kalib. Dua orang ini adalah korban dari kefasikan Bani Israil lain yang menyeret mereka berdua menjalani hukuman di padang Tih.

Referensi:

Bidayah Wa An Nihayah karya Ibnu Katsir

Mukjizat Nabi Uzair: Bangkit dari Kematian Setelah 100 Tahun Tertidur

Salah satu nabi yang pernah meninggal lalu hidup lagi untuk mengemban tugas dakwah

Ada beberapa pendapat mengenai nama asli Nabi Uzair. Ibn Asakir berkata bahwa nama aslinya Uzair bin Jarwah dan pendapat lain mengatakan nama aslinya yaitu Uzair bin Sarukha. Nabi Uzair pernah menjadi tawanan Raja Bukhtanasar/Nebukadnezar II saat usianya masih anak-anak. Setelah umurnya mencapai 40 tahun, Allah SWT mengaruniakan hikmah kepadanya.

Salah satu hal yang istimewa dari Nabi Uzair adalah kisahnya bangkit dari kematian setelah 100 tahun dimatikan oleh Allah. Bagaimana kisah lengkapnya? simak penjelasan di bawah ini!

1. Rutinitas sebagai petani

Seorang yang tengah bekerja di area persawahan

Pada suatu hari, Nabi Uzair pergi ke sawah untuk bekerja seperti biasanya. Dalam perjalanan, ia singgah di sebuah bangunan yang telah runtuh dan porak-poranda. Saat itu tengah hari, dan terik matahari mulai menyengat kulit.

Untuk berteduh, ia masuk ke dalam reruntuhan bangunan itu sementara ia masih menunggangi keledainya. Setelah masuk, ia turun dan membawa serta dua keranjang: satu berisi buah tin dan satu lagi berisi buah anggur.

Ia lalu duduk bersantai di bawah bayangan dinding yang masih berdiri, dan mengeluarkan bekal makanannya. Ia memeras buah anggur yang dibawanya ke dalam sebuah wadah, lalu mengambil roti kering dan mencelupkannya ke dalam sari anggur itu untuk dimakan.

Setelah makan, ia merebahkan badan. Lehernya disandarkan pada dinding, sementara kakinya diluruskan. Dari posisinya itu, matanya memandang langit-langit bangunan yang sudah hampir roboh dan seluruh keadaan di sekelilingnya. Ia melihat tembok-tembok yang telah jatuh menimpa atap, serta tulang-belulang manusia yang berserakan sisa-sisa penghuni kota yang telah musnah dan terlupakan.

Dalam hati, timbul sebuah pertanyaan yang sangat mendalam yang membuatnya tercenung: “Bagaimana mungkin Allah menghidupkan kembali negeri yang sudah hancur lebur seperti ini?”

2. 100 tahun telah meninggal

Bangunan terbengkalai dengan menampakkan kondisi kota yang terabaikan dari peradaban

Bukan berarti ia (Nabi Uzair) meragukan kekuasaan Allah untuk menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati. Rasa takjub dan pertanyaan yang timbul dalam hatinya murni berasal dari keinginan untuk memahami bagaimana prosesnya yang luar biasa itu terjadi.

Maka, sebagai jawaban sekaligus pelajaran, Allah mengutus seorang malaikat untuk mencabut nyawanya pada saat itu juga. Allah mematikannya selama seratus tahun penuh.

Selama satu abad itu, waktu terus berjalan. Di kalangan Bani Israil, telah terjadi begitu banyak peristiwa dan perubahan besar yang mengubah wajah masyarakat mereka. Nabi Uzair tertidur dalam kematiannya, menyaksikan tidak satu pun dari semua perubahan itu, terisolasi dari alur waktu.

BACA ARTIKEL LAIN:

3. Bangkit dan hidup kembali

Seorang berjubah putih tengah membersihkan badan dan kepalanya dari debu

Setelah 100 tahun berlalu, Allah mengutus seorang malaikat kepada Uzair. Malaikat itu pertama-tama mengembalikan akal dan pikiran Uzair agar jernih, lalu memulihkan penglihatannya sehingga ia dapat menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana kuasa Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati.

Saat itu, Uzair menyaksikan sebuah proses yang luar biasa: malaikat tersebut mulai menyusun tulang-belulangnya yang sudah berserakan, lalu membalutnya dengan daging, urat, rambut, dan kulit hingga jasadnya utuh kembali. Setelah jasadnya sempurna, malaikat meniupkan ruh ke dalamnya. Seluruh proses kebangkitan ini disaksikan langsung oleh Uzair, dan ia pun mulai merenung dan berpikir.

Setelah semua selesai, Uzair bangkit dan duduk. Lalu malaikat bertanya kepadanya, “Sudah berapa lama engkau tinggal di tempat ini?”

Uzair, yang merasa hanya sebentar saja, menjawab, “Saya tinggal di sini mungkin hanya sehari, atau bahkan setengah hari.” 

Ia mengira dirinya hanya tidur siang dan bangun sebelum matahari terbenam.

Ia pun bersumpah, “Saya yakin hanya tinggal setengah hari, tidak sampai satu hari penuh.”

4. Menghidupkan kembali keledai dan mengembalikan makan siang

Seekor keledai yang duduk meringkuk di bawah bangunan terbengkalai

Malaikat itu kemudian berkata, “Sesungguhnya engkau telah tinggal di sini selama seratus tahun.”

Kemudian malaikat menunjuk kepada makanan dan minuman Uzair: roti kering dan sari anggur yang diperasnya tadi masih tetap utuh, tidak berubah sama sekali, seolah baru ditinggalkan beberapa saat lalu. Buah tin dan anggurnya juga masih segar, persis seperti kondisi semula.

Dalam hatinya, Uzair masih merasa sulit mempercayai hal itu. Melihat keraguan dalam diri Uzair, malaikat pun berkata, “Apakah engkau masih meragukan apa yang kukatakan kepadamu?”

Lalu malaikat mengajaknya untuk melihat keledainya yang telah menjadi tulang belulang, berserakan dan hampir hancur. Malaikat itu berseru kepada tulang-belulang keledai itu. Seketika, tulang-belulang itu berhamburan datang dari segala penjuru, menyatu kembali.

Malaikat lalu menyusunnya menjadi kerangka utuh, kemudian menumbuhkan daging, bulu, dan kulitnya. Setelah jasadnya sempurna, malaikat meniupkan ruh ke dalamnya. Seketika itu juga, keledai itu hidup kembali. Ia bangkit, mengangkat kepala, dan menggerakkan telinganya ke arah langit, seolah mengira bahwa hari kiamat telah tiba.

5. Semua orang melupakannya

Seorang berjubah putih berjalan di tengah-tengah warga

Lalu, Uzair menaiki keledainya dan pergi menuju rumahnya. Namun, ketika tiba di tempat itu, ia mendapati bahwa tidak ada seorang pun yang mengenalinya, dan ia pun tidak mengenali wajah-wajah orang di sekitarnya.

Akhirnya, Uzair sampai di rumah lamanya. Di sana, ia menemukan seorang wanita tua buta berusia 120 tahun yang sedang duduk sendirian. Wanita itu dulunya adalah budak setia keluarga Uzair. Uzair meninggalkan kaumnya ketika wanita tersebut masih berusia 20 tahun. Seiring waktu, usia tua membuatnya pikun dan kehilangan ingatan.

Setelah wanita tua itu memperhatikan dengan saksama wajah Uzair, ingatannya pun pulih secara perlahan. Ia teringat bahwa Uzair telah menghilang selama 100 tahun. Wanita itu berkata, “Engkau adalah Uzair, orang yang doanya selalu dikabulkan Allah.”

Kemudian, wanita tua itu memohon kepada Uzair untuk mendoakannya agar penglihatannya yang buta disembuhkan. Uzair pun berdoa kepada Allah, lalu mengusap kedua mata wanita itu dengan tangannya. Seketika itu juga, penglihatannya pulih dan ia dapat melihat kembali.

Tak berhenti di situ, Uzair juga memegang tangan wanita itu dan mendoakannya agar kaki dan tangannya yang lemah disembuhkan. Wanita itu pun kembali sehat secara sempurna, seolah tidak pernah menderita sakit sama sekali.

BACA ARTIKEL LAIN:

6. Memperbarui Kitab Taurat

Seorang berjubah putih tengah menyusun robekan-robekan perkamen

Setelah kembali ke masyarakat, Nabi Uzair berusaha membuktikan identitasnya. Anaknya yang masih hidup setelah 100 tahun memberitahu orang-orang bahwa ayahnya memiliki tanda hitam di antara kedua pundaknya sebagai tanda kenabian. Ketika Uzair membuka bajunya, tanda itu benar-benar terlihat, dan masyarakat mulai percaya.

Kemudian, Bani Israil mengeluh bahwa Kitab Taurat telah hilang setelah dihancurkan oleh Raja Nebukadnezar (Bukhtanasar), dan hanya segelintir orang yang masih menghafalnya. Mereka meminta Nabi Uzair untuk menulis ulang Taurat.

Uzair teringat bahwa ayahnya, Sarukha, pernah menyembunyikan naskah asli Taurat dengan menguburnya di sebuah tempat rahasia yang hanya diketahui oleh mereka berdua. Uzair pergi ke tempat tersebut, menggali, dan menemukan naskah Taurat yang sudah lapuk dan tulisan yang hampir hilang.

Dengan izin Allah, Uzair duduk di bawah pohon dan mulai menulis ulang Taurat. Bani Israil berkumpul mengelilinginya. Tiba-tiba, dua anak panah cahaya dari langit masuk ke tenggorokannya, memberinya kekuatan untuk mengingat dan menuliskan seluruh Taurat tanpa salah.

Dikatakan bahwa peristiwa ini terjadi di daerah As-Sawāt, di rumah Hizkil, dan Nabi Uzair wafat di Sayar Abadz.

Catatan Penting:

  1. Kisah ini tidak tercatat dalam Al-Qur’an atau Hadis sahih — ini adalah bagian dari riwayat Israiliyat yang tidak dapat diverifikasi kebenarannya.
  2. Dalam Islam, Taurat diyakini sebagai kitab yang diturunkan kepada Nabi Musa, dan bukan hasil tulisan ulang manusia.
  3. Menurut Wahb bin Munabbih, “anak panah dari langit” adalah metafora yang mungkin merujuk pada ilham atau mukjizat dari Allah.

Hikmah:

Dari kisah Nabi Uzair, kita dapat mengambil hikmah bahwa kekuasaan Allah Maha Mutlak atas hidup dan mati, serta waktu bahkan seratus tahun baginya hanyalah seperti setengah hari. Kisah ini juga mengajarkan bahwa ilmu dan wahyu Allah tidak pernah hilang, karena Dia akan selalu memunculkan orang yang dipilih-Nya untuk menjaga dan mengajarkan kebenaran, meski segala sesuatu tampak telah hancur dan terlupakan.

Referensi:

Bidayah Wa An Nihayah karya Ibnu Katsir

Kanibalisme: 6 Fenomena Aneh & Memilukan yang Terlupakan dari Sejarah Bani Abbasiyah Era An Nashir

Terjadi fenomena kelaparan parah ketika pemerintahan Khalifah An Nashir

Nama aslinya yaitu Abu Al Abbas bin Al Mustadhi’ Biamrillah dan mendapat gelar An Nashir Lidinillah (Penolong Agama Allah). Lahir pada hari Senin, 10 Rajab 553 H. Ibunya adalah seorang mantan budak bernama Zamrud. An Nashir adalah khalifah yang begitu menyukai bidang hadits hingga dirinya mendapatkan sebuah lisensi/ijazah dalam meriwayatkan hadits. Uniknya, banyak orang yang meriwayatkan hadits darinya namun hanya untuk dipamerkan saja.

Di zaman pemerintahannya, keadaan begitu stabil dan rakyat sejahtera. Namun, di masa pemerintahannya pula banyak tragedi dan kejadian unik serta aneh. Apa saja kejadian yang dimaksud? baca selengkapnya!

1. Tuduhan Khalifah bersekutu dengan jin

Seorang khalifah yang tengah berbicara dengan jin dari balik tirai

Riwayat 1

Seorang utusan dari Mazindaran tiba di Baghdad dengan penuh rahasia yang ia simpan. Anehnya, setiap pagi ia selalu mendapat laporan rinci tentang apa yang ia lakukan di malam sebelumnya hal-hal yang seharusnya tidak ada seorang pun yang tahu.

Puncaknya terjadi pada suatu malam, ketika seorang perempuan masuk melalui pintu tersembunyi. Ia membawa selembar kertas dengan pesan ganjil: “Kalian memiliki sebuah peti, dan di dalamnya terdapat gambar seekor gajah betina.”

Pesan itu membuat sang utusan pucat pasi. Rahasianya benar-benar terbongkar. Ia segera meninggalkan Baghdad, dengan keyakinan bahwa khalifah memiliki pengetahuan ghaib. Baginya, pengalaman itu menjadi bukti nyata akan kekuatan tersembunyi yang diyakini sebagian kaum Syiah Imamiyah bahwa seorang imam makshum mampu menyingkap rahasia terdalam, bahkan yang tersembunyi di balik dinding dan di dalam rahim.

Riwayat 2

Pada suatu saat seorang utusan datang dari Khawarizm Syah dengan sepucuk surat yang disembunyikan, dan satu surat yang di stempel. Ketika utusan itu sampai di hadapan khalifah dia berkata, “Kembalilah engkau karena kami telah tahu apa yang kalian mau!”

Akhirnya orang itu pulang, sedangkan dia menyangka bahwa orang-orang di tempat itu mengetahui yang ghaib.

Adz-Dzahabi berkata, “Dikatakan bahwa sesungguhnya An-Nashir dalam melaksanakan tugas-tugasnya banyak dibantu oleh pasukan jin.”

2. Serangan alam karena berani menyerang Baghdad

Pasukan pemberontak yang diterjang bencana alam

Ketika Khawarizm Shah berhasil mengukuhkan kekuasaannya di Khurasan dan Asia Tengah, ia mulai memerintah dengan arogan dan zalim. Ia menindas rakyatnya, menyiksa banyak orang, dan secara terbuka menunjukkan pembangkangannya dengan berhenti mendoakan Khalifah Bani Abbas dalam khutbah-khutbahnya.

Puncak dari pemberontakannya adalah ketika ia memutuskan untuk menyerang Baghdad. Namun, saat pasukannya tiba di Hamadan, mereka dihadang oleh badai salju yang sangat lebat selama dua puluh hari. Tumpukan salju tebal menutup semua jalan dan memaksa mereka berhenti. Melihat kejadian luar biasa ini, sebagian penasihatnya berkata, “Sesungguhnya ini adalah bentuk kemarahan Tuhan kepadamu karena rencanamu untuk memberontak melawan pemerintahan yang sah dengan menyerbu istana khalifah.”

BACA ARTIKEL LAIN:

3. Penyakit batu ginjal

Para tabib yang bekerja keras di atas meja operasi kuno

Menurut catatan Syamsuddin Al-Jazari, Sultan An-Nashir memiliki prosedur yang sangat rumit untuk air minumnya. Air tersebut diambil dari sumber yang sangat jauh berjarak 7 farsakh/38 km (1 farsakh = 5,5 km) dan diangkut menggunakan hewan pengangkut.

Sebelum diminum, air itu harus melewati proses pemurnian yang panjang, mulai dari direbus sebanyak 7 kali/satu kali setiap hari. Setelah itu, airnya disimpan lagi selama tujuh hari di dalam wadah khusus.

Namun ironisnya, kematiannya justru disebabkan oleh air yang ia minum tiap hari dengan proses panjang di atas. Air tersebut ternyata telah dicampur dengan sejenis obat bius yang mengganggu saluran kemihnya hingga menderita penyakit batu ginjal. Khalifah An-Nashir akhirnya meninggal dunia pada hari Ahad di akhir bulan Ramadhan tahun 622 H.

4. Kiamat besar

Bencana alam topan dahsyat

Pada tahun 582 H, tersebar sebuah kabar mengenai fenomena astronomi langka di mana planet-planet diperkirakan akan berada dalam posisi sejajar. Berdasarkan peristiwa ini, para ahli nujum dan peramal menyebarkan ramalan bahwa akan terjadi bencana alam yang dahsyat berupa badai topan yang akan menghancurkan seluruh negeri layaknya kiamat.

Ramalan tersebut memicu kepanikan massal. Banyak orang yang ketakutan mulai menggali lubang perlindungan bawah tanah, lalu mengisinya dengan persediaan makanan dan air yang cukup. Untuk meningkatkan rasa takut, para peramal bahkan mengatakan bahwa badai tersebut akan sehebat angin yang pernah membinasakan kaum ‘Aad.

Pada malam yang diramalkan yaitu malam tanggal 9 Jumadil Akhir, orang-orang menunggu dengan cemas di tempat persembunyian mereka. Akan tetapi, ramalan itu sama sekali tidak terbukti. Tidak ada bencana apa pun terjadi, bahkan angin pun tidak berembus sedikit pun, sampai-sampai nyala api lilin pun tidak goyah.

BACA ARTIKEL LAIN:

5. Angin hitam & Meteorit

Sebuah meteor jatuh dan angin hitam aneh yang memenuhi langit

Peristiwa Tahun 592 H

Pada tahun 592 H, terjadi serangkaian fenomena alam yang tidak biasa. Sebuah badai gelap yang membawa debu hitam dilaporkan melanda Makkah, dan peristiwa serupa juga terjadi di berbagai belahan dunia. Selain itu, turun pula hujan pasir berwarna merah. Akibat cuaca ekstrem ini, sebagian dinding Rukun Yamani (salah satu sudut Ka’bah) runtuh.

Peristiwa Tahun 593 H

Setahun berikutnya, pada tahun 593 H, sebuah benda langit yang tampak seperti bintang besar jatuh ke bumi. Peristiwa itu menghasilkan suara dentuman yang sangat keras hingga menggetarkan rumah-rumah penduduk. Masyarakat yang dilanda kepanikan serentak memanjatkan doa bersama untuk memohon pertolongan, karena banyak yang mengira bahwa kejadian tersebut adalah pertanda datangnya hari kiamat.

6. Makan bangkai manusia bahkan bangkai anaknya sendiri

Seseorang yang nampak memasukkan gumpalan hitam ke mulutnya dan di sekitarnya banyak kuburan yang dibongkar

Pada tahun 596 Hijriah, sebuah malapetaka mengerikan melanda Mesir. Sungai Nil, nadi kehidupan yang legendaris, yang biasanya mengalir deras dengan kedalaman tiga belas depa, berubah menjadi hamparan tanah retak yang tandus. Kematian sungai itu memicu bencana kelaparan paling dahsyat yang tercatat dalam sejarah.

Kelaparan yang begitu keji telah melucuti rasa kemanusiaan. Penduduk yang terjebak dalam derita, bukan sekadar memakan bangkai binatang, tetapi nekat melahap sesamanya yang telah menjadi mayat. Kabar tentang kanibalisme bukan lagi isapan jempol, melainkan kenyataan pahit yang begitu masyhur dan memilukan.

Namun, puncak kengerian itu terjadi ketika gerombolan orang yang sudah tak waras berbondong-bondong menerobos kuburan. Dengan tangan gemetar dan mata yang dipenuhi kegilaan, mereka menggali kuburan untuk menyambung nyawa dengan memakan daging orang-orang yang telah membusuk di dalam liang lahat.

Keadaan rakyat Mesir saat itu ibarat lukisan nyata dari neraka dunia. Setiap jengkal tanah menyaksikan kelaparan yang merajalela. Jalanan bukan lagi untuk berlalu lalang, melainkan hamparan kuburan massal yang dipenuhi mayat-mayat bergelimpangan dan orang-orang yang sedang meregang nyawa, menunggu ajal menjemput dalam kesakitan yang tiada berujung.

Tragedi itu merata hingga ke pelosok desa. Suasana kampung-kampung sunyi dan mencekam. Hampir tidak ada lagi asap mengepul dari dapur; tanda bahwa tidak ada lagi makanan yang dimasak. Yang tersisa hanyalah rumah-rumah dengan pintu terbuka lebar, menyisakan kesunyian, karena para penghuninya telah menjadi mayat.

Imam Adz-Dzahabi mengisahkan sebuah gambaran yang begitu menghantui dan mampu membuat bulu kuduk siapa pun merinding. Beliau berkata, “Jalan-jalan berubah menjadi ladang kematian, dipenuhi oleh tubuh-tubuh tak bernyawa yang menjadi santapan mengerikan bagi burung-burung pemangsa dan binatang buas.” Anak-anak kecil yang masih tersisa terpaksa mengais recehan untuk bertahan hidup dalam jumlah yang sangat tidak berarti.

Lembaran kelam ini terus berlangsung, menyelimuti Mesir dalam kepedihan yang tak kunjung usai, hingga akhirnya berangsur reda pada tahun 598 H.

Hikmah:

Peristiwa kekeringan Sungai Nil pada tahun 596 H bukan hanya bencana alam, melainkan sebuah malapetaka kemanusiaan yang menghancurkan. Bencana ini menyapu seluruh lapisan masyarakat, dari kota hingga pelosok desa, dan melucuti batas-batas peradaban, mendorong orang untuk melakukan hal yang tak terbayangkan seperti kanibalisme demi bertahan hidup.

Referensi:

Tarikh al Khulafa’ karya Imam Jalaludin As Suyuthi

5 Hal Tentang Hasan bin Ali RA: Pernah Ditampar Ayahnya Hingga Racun Mematikan

Sayyidina Hasan bin Ali bin Abi Thalib adalah putra pertama dari pasangan Ali bin Abi Thalib dan Fatimah binti Muhammad SAW. Hasan bin Ali memiliki pribadi yang teguh, teduh, seorang yang begitu penyabar, tenang pembawaannya, istiqamah, dan membenci pertumpahan darah.

Ada pula hal-hal mengenai Hasan bin Ali yang jarang atau bahkan belum didengar oleh beberapa kaum muslimin. Penasaran apa aja? simak artikel di bawah ini!

1. Kemuliaan seorang Sayyid

Seorang lelaki berjalan dengan santai

Sa’ad meriwayatkan dari ‘Imran bin Sulaiman dia berkata bahwa nama HASAN & HUSEIN adalah 2 nama khusus dari nama-nama penghuni surga dan tak ada seorang Arab pun dari zaman Nabi Nuh sampai Nabi Muhammad bahkan di zaman Jahiliyah yang memakai nama tersebut. Hal tersebut dikarenakan Allah menyembunyikan 2 nama ini sampai kelak beliau berdua lahir kedunia.

Wajah Sayyid Hasan disebut beberapa sahabat memiliki kemiripan dengan wajah Rasulullah lebih tinggi dari saudaranya, Husein bin Ali. Kedua putra Ali bin Abi Thalib ini oleh Rasulullah SAW disebut sebagai penghulu atau pemimpin para pemuda penduduk surga.

Hasan kecil seringkali naik ke punggung dan bergelantungan di lutut mulia Rasulullah SAW saat beliau sedang shalat.

2. Ditampar ayahnya

Keadaan kacau karena sebuah rumah sedang terbakar

Ketika peristiwa mengerikan perihal pembunuhan Utsman bin Affan oleh kaum pemberontak sedang berlangsung, posisi Hasan dan Husein berada tepat di luar pintu rumah Utsman bin Affan dengan pedang terhunus dan siap menyabet siapapun yang berani menyentuh Utsman.

Namun, takdir manusia tak ada yang tahu. Berita kematian Utsman bin Affan menyebar cepat seantero Madinah. Ali bin Abi Thalib segera mendatangi rumah Utsman bin Affan kemudian masuk ke dalamnya. Alangkah terkejutnya Ali melihat kondisi Utsman bin Affan yang begitu miris dengan leher tergorok.

Ali segera menemui Hasan dan Husein serta penjaga-penjaga yang lain. Disana Ali bin Abi Thalib mengangkat tangannya dan menampar keras wajah Hasan serta memukul dada Husein. Ali bin Abi Thalib memarahi siapapun yang ada disana karena bagaimana Amirul Muknimin bisa meninggal dengan sadis padahal rumahnya dijaga ketat.

Diketahui, bahwa komplotan Muhammad bin Abu Bakar meloncat dari pagar samping rumah. Sehingga, aksi penyusupan mereka tak ada yang mengetahui.

3. Cacian Binatang

Seorang gubernur yang angkuh sedang mencaci maki di atas mimbar

Marwan, salah satu keturunan Bani Umayyah begitu membenci keluarga Ali bin Abi Thalib beserta keturunannya. Pernah suatu ketika Marwan mengirim seorang laki-laki dan menyuruhnya untuk mendatangi Sayyid Hasan bin Ali untuk mengatakan kepada Hasan:

“Atas nama Ali dan namamu, sesungguhnya aku tidak menganggapmu (Hasan) kecuali sebagai seekor keledai. Jika ada orang bertanya kepadamu (Hasan): siapa ayahmu? maka kamu (Hasan) sudah selayaknya menjawab dengan: Ibuku adalah seekor kuda”.

Menerima cacian seperti ini Sayyid Hasan bin Ali tak pernah membalasnya.

Baca Artikel Lain:

4. Sering menikah-sering pula cerai

Ilustrasi sebuah mahar pernikahan berupa emas dan perhiasan

Sejarah islam mecatat bahwa Hasan bin Ali adalah orang yang seringmenikah namun juga sering menceraikannya.

Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Ali bin Husein: Al Hasan adalah seorang lelaki yang begitu sering menceraikan istrinya. Dia tidak pernah menceraikan istrinya kecuali istrinya akan tetap mencintainya. Dia telah menikah dengan 99 wanita.

Riwayat lain juga mengatakan bahwa para orangtua saat itu melarang yang lain untuk menikahkan anaknya dengan Sayyid Hasan karena seringnya beliau menceraikan istrinya.

Ayah dari Ja’far bin Muhammad juga berkata bahwa kebiasaan Al Hasan setelah nikah lalu bercerai lagi ditakutkan akan terjadi permusuhan diantara para kabilah.

Namun, diluar perbuatan Sayyid Hasan yang sering menikah sering pula menceraikannya, banyak juga orangtua yang ingin menikahkan anaknya dengan beliau.

Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Abdullah bin Hasan berkata bahwa Al Hasan adalah orang yang sering menikah, sedikit wanita yang membenci beliau , lebih banyak wanita yang dinikahi beliau merasa senang dan puas daripada yang merasa tak puas.

5. Racun Kalomel

Ilustrasi sebotol racun

Sayyid Hasan bin Ali wafat diusia 45 tahun karena diracun istrinya sendiri, Ja’dah binti Al Asy’ats bin Qais. Alasan Ja’dah nekat meracuni suaminya sendiri tidak lain karena tindakannya berselingkuh dengan Yazid bin Muawiyah. Yazid menjanjikan bahwa dirinya akan menikahi langung Ja’dah dengan syarat dirinya meracuni Sayyid Al Hasan.

Ada sebuah hipotesis mengenai jenis racun, asal, dan bagaimana cara mendapatkannya. Dikutip dari National Library of Medicine dalam jurnal artikel berjudul A forensic hypothesis for the mystery of al-Hasan’s death in the 7th century: Mercury(I) chloride intoxication. Jenis racun yang digunakan Ja’dah bernama mineral kalomel atau merkuri dengan rumus kimia (merkuri (I) klorida, Hg2Cl2).

Tak hanya Hasan, salah satu budaknya juga teracuni akibat perbuatan Ja’dah namun masih selamat karena dia langsung memuntahkannya. Sementara Sayyid Hasan menahannya dalam perut yang mengakibatkan organ dalamnya hancur.

Gejala yang dialami Sayyid Hasan sebelum meninggal yaitu:

  1. Sayyid Hasan ditawari minuman oleh istrinya (Ja’dah) yang diduga adalah sejenis yogurt. Referensi lain menyebutkan bahwa minuman tersebut seperti ada warna emas di dalamnya. Menurut ahli minerologi dan toksikologi, warna emas tersebut muncul dari sifat asli kalomel yang memang berwarna keemasan.
  2. Setelah meminum racun tersebut, warna kulit Sayyid Hasan memunculkan semburat hijau karena efek rusaknya organ ginjal dari reaksi kimia kalomel dalam tubuh.
  3. Setelah itu, Al Hasan tiba-tiba memuntahkan darah bercampur dengan gumpalan-gumpalan kecil dari dalam perutnya.
  4. Berdasarkan riwayat lain, Al Hasan telah diracuni sebanyak 3-4 kali dengan racun yang sama dan mengakibatkan zat kalomel ini mengendap dalam tubuh dalam kurun waktu yang lama.
  5. Racun kalomel ini hanya bisa didapatkan dari sebuah tambang di wilayah kekaisaran Byzantium (Turki Barat) dan hanya orang-orang tertentu saja yang bisa mengaksesnya, termasuk juga Yazid bin Muawiyah yang punya banyak kenalan dengan wilayah tersebut.

Fakta bahwa baik otopsi maupun investigasi yudisial tidak dilakukan oleh pihak berwenang pada saat itu seharusnya tidak menghalangi penggunaan keterangan saksi mata sebagai bukti. Fakta mineralogi, medis, dan kimia mendukung hipotesis bahwa kematian al-Hasan disebabkan oleh keracunan kalomel (merkuri(I) klorida). Hipotesis forensik ini konsisten dengan posisi historis, yang tercermin dalam dokumen-dokumen kuno (abad pertengahan), bahwa al-Hasan diracun oleh Ja’dah, atas dorongan khalifah, dan dengan keterlibatan kaisar Bizantium.

Referensi:

Tarikh Al Khulafa’ bab: Al Hasan bin Ali bin Abi Thalib

Nicole Burke, dkk. Jurnal Artikel berjudul: A forensic hypothesis for the mystery of al-Hasan’s death in the 7th century: Mercury(I) chloride intoxication. National Library of Medicine https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC4923806/

Raja Kaum ‘Ad: Menunda Kematian Berakhir di Neraka Ladza

Kaum ‘Ad adalah bangsa yang hidup pasca banjir bandang era Nabi Nuh as. Kaum ‘Ad termasuk kaum yang memiliki peradaban tinggi dan sempat disinggung dalam Al-Qur’an beberapa kali. Selain kisah mereka dengan Nabi Hud yang masyhur, ada cerita sampingan yang tercantum dalam kitab An Nawadir perihal raja kaum ‘Ad. Bagaimana kisahnya? simak lebih lengkap di bawah ini!

1. Izrail Datang Berkunjung

Ilustrasi malaikat pencabut. (image by chatgpt)

Suatu ketika di era pemerintahan Raja Kaum ‘Ad yang tak diketahui identitas lengkapnya, malaikat Izrail datang berkunjung dengan tujuan untuk mencabut nyawa si Raja. Dengan rasa gemetar hebat si Raja bertanya kepada malaikat maut:

“Siapa engkau?”

“Aku malaikat maut . Aku datang untuk mencabut nyawamu.”

“Aku mohon tolong tunda kematianku hingga 7 tahun mendatang sehingga aku dapat mempersiapkan diri saat menghadapinya.”

Kemudian Allah SWT berfirman kepada malaikat maut:

“Katakan kepadanya bahwa aku menunda kematiannya hingga 7 tahun mendatang.”

2. Benteng Anti Malaikat

Ilustrasi benteng kuno yang dibangun di atas tanah kerajaan. (image by chatgpt)

Setelah malaikat maut pergi, sang raja segera memerintahkan kepada seluruh prajurit dan warganya untuk membangun benteng besar dan bersenjata lengkap yang tak mampu ditembus oleh siapapun.

Dibangun 7 lapis parit besar yang mengelilingi benteng lengkap dengan menara pandang pengawas yang menjulang tinggi.

Benteng ini dilengkapi dengan pintu gerbang yang terbuat dari besi dan timah. Istana megah dengan berbagai interior mewah dibangun di dalamnya sebagai kediaman dan rumah perlindungan bagi Raja Kaum ‘Ad ini.

Setelah semua pembangunan sudah selesai, sanga raja memerintahkan kepada seluruh prajuritnya untuk melarang siapapun masuk ke dalam istana raja.

Bukannya beribadah, selama 7 tahun tersebut sang Raja justru melakukan kemasiatan yang lebih parah dari sebelumnya. Hal itu ia lakukan karena espektasi tingginya bahwa sang malaikat tak akan mampu masuk ke dalam istana atau menghancurkan bentengnya.

Artikel lain:

3. Malaikat Izrail Datang Lagi

Ilustrasi malaikat pencabut nyawa. (image by chatgpt)

7 tahun pun berlalu. Di saat sang raja lagi bersantai, dia dikagetkan oleh se sosok makhluk yang amat mengerikan. Diketahui bahwa ialah sang malaikat pencabut nyawa yang tempo hari mendatangi si raja.

Dengan perasaan kalut, sang raja membentak seluruh prajuritnya dan menanyakan bagaimana mereka membiarkan sosok tersebut masuk.

Para prajurit segera memeriksa ke seluruh sudut benteng dan istana. Mereka tak menemukan 1 pintu pun yang terbuka, celah tembok yang rusak, ataupun melihat ada penyelinap masuk.

Malaikat maut pun segera mencabut nyawa si Raja Kaum ‘Ad yang ahli maksiat ini dan rumah megah di neraka Ladza sudah menunggunya untuk membakar si Raja.

Hikmah:

Semakin mendalami kisah-kisah umat terdahulu juga semakin yakin bahwa peristiwa ajaib dan tak masuk akal seakan menjadi penghias khazanah sejarah islam yang ada. Berbagai genre cerita selalu membawa hikmahnya sendiri, baik tentang kisah kedurhakaan seseorang atau tentang ketaqwaan. Tinggal bagaimana cara seorang muslim menyikapinya.

Referensi:

Kitab An Nawadir karya Syihabuddin Al Qalyubi

Marwan Si Keledai: Membongkar Makam Untuk Menyalib Mayatnya

Marwan bin Muhammad bin Marwan bin Hakam adalah khalifah Daulah Umayyah terakhir yang harus berurusan dengan Abbas As Saffah dan Abdullah bin Ali ketika peristiwa penggulingan ke-Khalifahan Umawiyah. Ada kisah yang cukup bikin bulu kuduk berdiri terkait Marwan setelah dirinya dilantik. Simak selengkapnya di bawah ini!

1. Gelar Himar atau Keledai

Seorang raja dengan tatapan dinginnya menatap seorang yang sedang ngamuk depan mukanya. (image by gemini)

Dalam bahasa arab, Himar artinya keledai. Julukan ini disematkan bukan tanpa alasan. Marwan adalah orang yang begitu sabar dalam menghadapai musuh-musuh politiknya, memiliki sikap kehati-hatian yang yang tinggi, dan tak suka gegabah.

Himar atau keledai sendiri digambarkan sebagai binatang yang jalannya lambat dan tak tergesa-gesa.

Ada juga yang mengatakan bahwa orang-orang Arab memberikan julukan Al Himar kepada pemerintahan yang masih berdiri di usia yang ke 100 tahun sedangkan Marwan sendiri memerintah Bani Umayyah yang usianya menjelang ke 100 tahun.

Baca artikel lainnya:

2. Membongkar Makam

Seorang yang sedang membongkar makam di malam hari saat keadaan hujan. (image by gemini)

Hal yang pertama kali Marwan lakukan sebagai khalifah adalah membongkar makam Yazid. Alasannya adalah Yazid III lah yang dulu memimpin pemberontakan untuk menggulingkan pemerintahan Al Walid II hingga menewaskannya di tangan pasukan Sulaiman bin Hisyam. Marwan mendengar bahwa pemerintahan Al Walid telah jatuh saat dirinya berada di Armenia.

Pada bulan Shafar, tahun 129 H. Marwan berhasil merebut kekuasaan Umayyah dari tangan Ibrahim bin Walid yang hanya memerintah selama 70 hari. Tepat setelah dirinya dilantik, Marwan segera menyuruh pasukannya untuk membongkar makam Yazid kemudian mengeluarkannya untuk disalib pada tonggak kayu.

3. Seekor Kucing Mencuri Lidah Marwan

Seekor kucing mengigit sepotong daging. (Image by gemini)

Dari Ash Shuli meriwayatkan dari Muhammad bin Shalih dia berkata:

Tatkala Marwan Al Himar terbunuh, kepalanya dipotong dan dibawa kepada Abdullah bin Ali. Dia kemudian melihat potongan kepala tersebut dan Abdullah lalai. Tiba-tiba datang seekor kucing dan menggigit lidah Marwan dari mulutnya lalu dia telan ke dalam perutnya.

Abdullah bin Ali menganggap peristiwa ini sebagai sebuah keajaiban yang sangat besar.

Konflik demi konflik selalu melekat dalam pemerintahan yang berbentuk monarki. Saling sikut antar keluarga kerajaan menjadikan lingkungannya toksik dan dipastikan tak terhindarnya pertumpahan darah. Apakah hal seperti ini menurutmu wajar? tulis di kolom komentar!

Referensi:

Tarikh Al Khulafa’ karya Imam Jalaludin As Suyuthi

Memakan Bara Api Hingga Menangis Dalam Kuburan: Peristiwa Unik Pra-Kenabian

Apa jadinya kalau mukjizat itu sudah ada sebelum dilantik jadi nabi?

Sebelum menjabat sebagai Nabi dan Rasul, tanda-tanda kenabiannya sudah mulai terlihat bahkan sebelum mereka lahir. Hal ini bukan tanpa alasan mengingat Allah SWT menjaga beliau-beliau ini dari dosa.

Ada beberapa kisah menarik perihal para Nabi baik di usianya yang masih kecil hingga menginjak dewasa. Kisah apa yang dimaksud? simak penjelasannya di bawah ini!

1. Nabi Yahya menangis dalam kuburan

Seorang anak kecil sedang menangis di dalam sebuah lubang galian. (image by gemini)

Diriwayatkan dari Ibnu Mubarak, bahwasanya Wahab bin Munabbih berkata: Nabi Zakariya pernah kebingungan mencari anaknya yang hilang selama 3 hari 3 malam. Sampai Nabi Zakariya tiba di sebuah tempat yang mirip seperti pemakaman.

Setelah beliau mengelilingi pemakaman tersebut, ada 1 makam yang terlihat galiannya belum selesai. Disana beliau merasa kaget karena anaknya yang ia cari selama 3 hari ternyata berada di dalam kuburan tersebut yang ternyata digalinya sendiri.

Nabi Yahya kecil menggali sendiri kuburan tersebut, masuk ke dalamnya, dan menangis terus menerus selama 3 hari. Alasannya adalah Nabi Yahya teringat ucapan ayahnya bahwa diantara Surga dan Neraka ada sebuah urusan yang tak akan bisa dipatahkan kecuali hanya dengan tangisan air mata.

Mendengar penuturan putranya, beliau mengangkat Nabi Yahya kecil ke permukaan dan menangis bersamanya.

2. Nabi Musa Memakan Bara Api

Tangan seorang bayi yang terlihat akan meraih potongan buah-buahan yang diletakkan di samping sepiring bara api. (image by gemini)

Pernah suatu ketika Musa kecil digendong dan ditimang-timang oleh Fir’aun. Saat Fir’aun mendekatkan wajahnya agar disentuh bayi yang ditimangnya, Nabi Musa justru menarik jenggot Fir’aun dengan amat kencang.

Fir’aun jelas marah dan meletakkan bayi tersebut ke tempatnya. Segera, dia menyuruh pengawalnya untuk segera membunuh si bayi. Namun, Asiyah binti Muzahim (istri Fir’aun) mencegahnya dengan alasan tingkah bayi memang seperti itu.

Pikiran Fir’aun yang sudah kemana-mana karena dihantui mimpi buruknya yang kelak kekuasaannya akan diruntuhkan oleh anak laki-laki dari Bani Israil jelas merasa jengah.

Untuk menguji apakah Musa kecil memang anak yang diramalkan, Fir’aun menyuguhkan sepiring buah dan bara api. Jika Musa memilih buah, maka jelas dia sudah menunjukkan tanda-tanda kenabian dan akalnya sudah hidup. Namun jika memilih bara api, maka nggak ada bedanya dengan bayi yang lain.

Saat Nabi Musa akan mengambil buah, Allah menyelamatkannya dengan menggeser tangannya untuk memegang bara api dan memasukkannya ke dalam mulutnya. Alhasil, Nabi Musa mengalami cacat pada lidahnya karena telah memakan bara api.

3. Runtuhnya berhala ketika Nabi Isa lahir

Berhala yang mengalami keretakan. (image by gemini)

Wahab bin Munabbih menyebutkan bahwa ketika Isa dilahirkan, segala jenis patung yang dibuat sesembahan mulai dari ufuk barat hingga timur berjatuhan.

Setan kebingungan karena terjadi perkara hebat di alam mereka. Iblis memberitahunya bahwa seorang Nabi Isa telah lahir di kamar ibunya (Maryam) dan para malaikat mengelilinginya sebagai proteksi agar tak ada setan yang mengganggu.

Baca artikel lainnya:

4. Nabi Isa jadi detektif

Seorang pura-pura buta yang duduk di pinggir jalan. (image by gemini)

Nabi Isa tergolong anak paling cerdas dan mampu menangkap detail-detail kecil di sekitarnya.

Pernah suatu ketika beberapa saudagar yang sedang lewat di depan rumah pengungsian terlihat kebingungan mencari sesuatu yang ternyata diantara salah satu temannya ada yang kehilangan uang.

Kebingungan mereka bertambah saat hanya mendapati di dalam rumah tersebut hanya ada orang miskin, kaum gembel, orang-orang lemah, dan berpenyakitan.

Setelah Isa kecil mengetahui kasus tersebut, beliau segera membawakan semacam tempat duduk ke salah satu orang buta disana. Nabi Isa menyuruh untuk membawa tempat duduk ini dan memasukkannya ke dalam saku.

Si buta jelas menolaknya karena tidak mungkin melakukannya. Nabi Isa kemudian menjawabnya dengan sanggahan bahwa si buta bisa saja membawanya secara diam-diam seperti dia mengambil uang dari salah satu saudagar. Si buta akhirnya pun mengaku bahwa dialah yang mengambil uangnya.

5. Setan tak mampu mencuri berita langit setelah Nabi Muhammad SAW lahir

Sesosok setan yang terlihat mencuri informasi di langit. (image by gemini)

Ada 2 pendapat yang sama-sama kuatnya perihal Nabi Muhammad SAW. Pendapat pertama mengatakan bahwa Nabi Muhammad SAW lahir dalam keadaan sudah di khitan (sirah nabawiyah). Pendapat kedua mengatakan bahwa yang meng-khitan Nabi SAW adalah Abdul Muthalib setelah 7 hari kelahiran beliau.

Aminah melihat cahaya yang ikut keluar mengiringi kelahiran Nabi Muhammad. Cahaya tersebut menerangi istana-istana negeri Syam (Musnad Ahmad).

Berhala-berhala berjatuhan, istana Raja Kisra dilanda gempa hebat, sampai Api Persembahan kaum majusi yang berada di atas menara persia padam. Padahal api tersebut sudah menyala ribuan tahun. (keterangan ini tidak mencapai derajat shahih).

Pasca kelahiran Nabi Muhammad SAW., pintu-pintu langit ditutup dan setan tak bisa mencuri berita langit lagi. Jika masih berani mencuri dengar, maka panah-panah api akan mengejarnya. (HR. Tirmidzi)

Hikmah:

Sebelum Nabi Muhammad ﷺ menerima wahyu, banyak peristiwa menakjubkan yang menandai persiapannya menjadi Rasul. Sejak kecil, beliau hidup penuh keberkahan, dadanya pernah dibelah malaikat untuk disucikan, dan Allah menjaganya dari perilaku jahiliyah. Setiap mimpi yang dialaminya selalu benar, dan seorang rahib pun mengenali tanda kenabiannya saat beliau berdagang. Dari kisah ini kita belajar bahwa kemuliaan lahir dari hati yang bersih, akhlak terjaga, dan kejujuran, sehingga kita pun sepatutnya meneladani sifat-sifat mulia beliau dalam kehidupan sehari-hari.

Referensi:

Qishasul Anbiya’ karya Ibnu Katsir

The Great Story of Muhammad karya Ahmad Hatta

Wajah Kaum Tsamud Menghitam: Kisah Nabi Shalih dan Mukjizat Unta Betina

Sejak di sekolah kita sudah sering sekali mendengarkan para guru berkisah tentang mukjizat Nabi Shalih tentang unta betina yang mempunyai perilaku aneh. Kaum Tsamud yang menerima azab mengerikan pun juga sudah banyak diceritakan.

Namun, nggak banyak orang tahu bahwa detik-detik sebelum adzab terjadi ternyata kaum Tsamud mengalami fenomena ganjil. Ada pula seorang penyintas yang ternyata berhasil selamat dari peristiwa mengerikan ini namun akhir hidupnya tidak kalah tragis.

Bagaimana fenomena tersebut dan bagaimana akhir tragis si penyintas? baca selengkapnya di bawah ini! bikin geleng-geleng kepala.

1. Peradaban Kaum Tsamud

Populasi manusia yang tinggal di bebatuan besar dengan pertanian mininya. (image by chatgpt)

Kaum Tsamud adalah bangsa Arab asli yang tinggal di daerah pegunungan di antara Hijaz dan Tabuk. Rasulullah SAW., pernah melewati daerah tersebut ketika beliau berangkat ke Tabuk bersama beberapa orang muslim yang menyertai beliau.

Peta yang menunjukkan lokasi Kaum Tsamud tinggal. (Image by chatgpt)

Tempat tinggal Kaum Tsamud benar-benar unik, strategis, dan dikelilingi benteng alami berupa batuan terjal sehingga aman dari serangan musuh. Jika manusia biasa memecah batuan menjadi kecil untuk dijadikan pondasi, maka Kaum Tsamud lebih mind-blowing lagi. Mereka jadikan batuan tersebut untuk tempat tinggal dengan cara memahat, melubangi, dan mengisinya dengan interior-interior sederhana seperti kulit domba, rerumputan, dan senjata.

Oleh karena itu, Kaum Tsamud disebut juga sebagai Al Hijr atau kaum yang memakai bebatuan besar sebagai rumahnya.

Sekelompok manusia terlihat mengukir bongkahan batu. (image by chatpgt)

Asal kata Tsamud adalah nama seseorang yang bernama Tsamud. Tsamud mempunyai saudara bernama Judais. Keduanya adalah putra dari Abir bin Iram bin Sam bin Nuh. Kaum Tsamud sendiri muncul setelah binasanya peradaban kaum ‘Aad yang telah Allah Azab karena kedurhakaannya kepada Nabi Hud as.

Mata pencaharian Kaum Tsamud adalah menggembala dan bertani. Sumber mata air mereka berasal dari sumur yang terus menerus mengeluarkan air di tengah gersangnya padang pasir.

Mereka menggantungkan air dari sumur tersebut untuk minum, mencuci pakaian, irigasi, air minum ternak, dsb. Sangat berat bagi mereka jika sampai sumur ini kering.

2. Berhala yang dituhankan

Berhala di tengah perkampungan Arab kuno. (image by chatgpt)

Kaum Tsamud mengisi kekosongan spiritualnya dengan cara menyembah berhala. Sebelum berangkat kerja, sepulang dari bekerja, minta keberuntungan, sampai minta anakpun mereka menghadap berhala.

Disinilah Nabi Shalih as. diutus untuk meluruskan ajaran sesat bin kafir Kaum Tsamud. Seperti biasa, penolakan, pelecehan, penghinaan, dan cemoohlah yang didapat seorang Nabi jika pertama kali berdakwah di tengah-tengah sebuah kaum penyembah berhala.

Kaum Tsamud tidak sebodoh yang kita kira bahwa mereka nggk tahu siapa itu Allah. Hanya saja, mereka sangat malas untuk mengganti tuhan mereka dengan tuhan yang tidak terlihat. Kaum Tsamud juga mengerti siapa Kaum ‘Aad dan alasan mengapa mereka diazab oleh Allah.

Namun, karena mereka tidak mengalaminya sendiri bagaimana azab tersebut terjadi dan jangka waktunya juga sudah lama, makanya mereka tidak percaya apa yang dikatakan oleh Nabi Shalih.

3. Segelintir pengikut

Sekelompok orang yang sedang mengamuk pada sesuatu. (image by chatgpt)

Penolakan demi penolakan semakin memanas. Meskipun begitu, Nabi Shalih berhasil menarik beberapa pengikut untuk menyembah Allah dari kaum yang lemah, miskin, dan tersisihkan dalam lingkup sosial.

Para pemuka-pemuka dan pembesar masyarakat dari kaumnya yang menyombongkan diri dan angkuh berkata dengan nada ejekan untuk menanamkan keraguan kepada orang-orang yang dianggap lemah, yaitu orang-orang yang telah beriman di antara kaumnya,

“Tahukah atau percayakah kamu bahwa Saleh adalah seorang rasul dari Tuhannya yang diutus untuk menyampaikan risalah?”

Mereka, orang-orang yang beriman, menjawab dengan tegas, “Sesungguhnya kami benar-benar percaya kepada apa, yakni risalah, yang disampaikannya, yakni Nabi Saleh, kepada kami, karena petunjuk-petunjuk itu benar dan datangnya dari Allah.”

4. Kaum Tsamud minta mukjizat

Seekor unta betina yang muncul dari dalam batu beserta anaknya. (image by chatgpt)

Karena ocehan busuk dari pembesar Tsamud tak bisa menggoyahkan iman para pengikut Nabi Shalih, maka mereka menggunakan cara terakhir yaitu meminta sebuah mukjizat jika Nabi Shalih benar-benar utusan Tuhan.

Mukjizat yang mereka minta pun sangat nyeleneh berupa kemunculan seekor unta bukan dengan cara dilahirkan seperti pada umumnya, melainkan muncul dari dalam batu.

Nabi Shalih as. menyanggupinya. Beliau segera melakukan shalat 2 raka’at, berdoa kepada Allah SWT, dan meminta kepada Allah untuk dianugerahi mukjizat sesuai dengan permintaan Kaum Tsamud. Sebongkah batu yang cukup besar tiba-tiba retak dan dari dalamnya muncul seekor unta betina yang gemuk dan sehat beserta 1 anaknya.

Artikel lainnya:

5. Konsekuensi

Seekor unta betina yang minum air dari sebuah sumur. (image by chatgpt)

Karena mukjizat yang diminta sudah muncul, Nabi Shalih mengajukan beberapa syarat sebagai konsekuensi sekaligus ujian kepada Kaum Tsamud. Beberapa syarat tersebut adalah:

  1. Kaum Tsamud dilarang keras menganggu unta betina ini;
  2. Kaum Tsamud dilarang keras mengambil air di hari yang sama ketika unta betina minum dari sumur utama. Sebagai balasannya, Kaum Tsamud bebas mengambil susu dari unta betina ini. Susu yang diambil dijamin akan mencukupi kebutuhan Kaum Tsamud untuk menghilangkan dahaga.

Hari demi hari berjalan. Kaum Tsamud selalu memandang sinis unta mukjizat ini karena jika dia minum di hari itu maka Kaum Tsamud tak akan bisa mengairi lahan pertanian dan memberi minum ternaknya.

6. Rencana pembunuhan

Sekelompok orang yang terlihat menyusun rencana misterius. (image by gemini)

Para pemimpin Tsamud segera mengadakan pertemuan untuk membuat rencana menghabisi untanya Nabi Shalih.

Ibnu Jarir dan para ulama’ ahli tafsir menyebutkan bahwa dulunya ada 2 wanita.

Wanita pertama adalah janda kaya raya dan cantik bernama Shaduq binti al Mihya. Dia menawarkan kepada seorang pemuda bernama Masda’ bin Mahraj untuk membunuh untanya Nabi Shalih dengan bayaran Masda’ bisa menikahinya dan seluruh harta kekayaannya bisa ia miliki. Masda’ pun menyetujuinya.

Wanita kedua bernama Unaizah binti Ghunaim. Seorang wanita tua kafir namun memiliki beberapa putri yang sangat cantik jelita. Si tua kafir ini menawarkan kepada Qidar bin Salif untuk membunuh untanya Nabi Shalih dengan bayaran bisa menikahi salah satu anaknya dan tentunya si Qidar menyanggupinya.

Maka, berangkatlah Masda’ dan Qidar bersama 7 orang lainnya dengan total ada 9 orang pembunuh. Mereka bersembilan juga melakukan kerjasama dengan kabilah lain untuk mengumpulkan informasi.

Ketika si unta sudah mencapai jangkauan para pembunuh ini, Masda’ melesatkan anak panahnya tepat mengenai tulang betis dan membuat si unta tersungkur. 7 pembunuh lain segera meringkus dan menyumpal mulut si unta betina. Unaizah yang melihat kejadian ini segera menunjukkan salah satu anaknya kepada Qidar dan hal ini membuat Qidar semakin kesetanan.

Qidar segera menggorok leher unta betina ini hingga urat lehernya putus sementara yang lain juga memotong dagingnya. Si anak unta betina segera lari menuju ke atas gunung dan menjerit 3 kali kemudian menghilang dengan masuk ke dalam batu. Ada juga yang meriwayatkan bahwa si anak juga diburu dan dibunuh saat itu juga.

7. Ultimatum menyambut azab

Seseorang yang terlihat menyampaikan sesuatu di tengah perkampungan. (image by gemini)

Kaum Tsamud yang berbangga setelah membunuh untanya Nabi Shalih dengan lagaknya yang sombong menantang Nabi Shalih untuk mendatangkan azab seperti yang beliau dakwahkan selama ini. Hal ini terdokumentasi jelas dalam Al Qur’an yang berbunyi:

فَعَقَرُوا النَّاقَةَ وَعَتَوْا عَنْ اَمْرِ رَبِّهِمْ وَقَالُوْا يٰصٰلِحُ ائْتِنَا بِمَا تَعِدُنَآ اِنْ كُنْتَ مِنَ الْمُرْسَلِيْنَ ۝٧٧

Mereka memotong unta betina itu dan mereka melampaui batas terhadap perintah Tuhan mereka, dan mereka berkata, “Wahai Saleh, datangkanlah kepada kami apa (ancaman siksa) yang engkau janjikan kepada kami jika engkau termasuk orang-orang yang diutus (Allah).” (QS. Al A’raf: 77)

Nabi Shalih segera menyampaikan ultimatumnya bahwa setelah 3 hari mulai besok (sekarang hari rabu) maka azab yang mereka damba-dambakan akan segera datang dan bersukarialah untuk menyambut azab tersebut.

Setelah memberikan ultimatum, Nabi Shalih beserta pengikutnya yang beriman segera mengungsi menuju wilayah yang jauh dari jangkauan azab karena mereka telah mencium rencana bahwa Kaum Tsamud juga akan menghabisi Nabi Shalih beserta seluruh pengikutnya yang beriman.

Artikel lainnya:

8. Wajah Kaum Tsamud menghitam dan datangnya azab yang mengerikan

Wajah seseorang yang menghitam dengan rasa cemas. (image by gemini)

Pada hari kamis (H-3 datangnya azab), wajah Kaum Tsamud tiba-tiba menguning dan mereka berkata bahwa hari tersebut sudah masuk hitungan hari menuju azab.

Pada hari jum’at (H-2 datangnya azab), wajah Kaum Tsamud berubah lagi menjadi kemerahan dan mereka berteriak bahwa azab akan segera datang.

Pada hari sabtu (H-1 datangnya azab), Kaum Tsamud mengadakan pesta pora menyambut azab. Disinilah wajah mereka berubah warna lagi seakan menghitam. Disini mereka duduk-duduk santai sambil memendam rasa cemas dan takut yang teramat sangat akan azab yang telah dijanjikan oleh Nabi Shalih.

Tepat setelah matahari terbit di ufuk timur pada hari minggu, terdengarlah suara yang amat sangat keras sekaligus mengerikan dari atas langit. Peristiwa ini disusul gempa yang amat dahsyat yang mengguncang pemukiman Kaum Tsamud hingga luluh lantak. Keadaan menjadi hening seakan membisu, semuanya telah berubah menjadi bangkai baik kecil maupun besar, tua atau muda, anak kecil atau orang dewasa, semuanya mati mengenaskan.

Mayat-mayat terbujur kaku dan mengenaskan sesuai dalam QS. Al A’raf ayat 78 yang berbunyi:

فَاَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ فَاَصْبَحُوْا فِيْ دَارِهِمْ جٰثِمِيْنَ ۝٧٨

Maka, gempa (dahsyat) menimpa mereka sehingga mereka menjadi (mayat-mayat yang) bergelimpangan di dalam (reruntuhan) tempat tinggal mereka.

9. Penyintas yang berakhir tragis

Seorang wanita tua yang sedang minum. (image by gemini)

Namun, ada seorang penyintas bernama Kalbah binti As Salqi. Seorang wanita tua kafir dari kalangan budak yang sangat membenci Nabi Shalih. Tak ada riwayat yang mengatakan bagaimana dia bisa selamat. Setelah melihat peristiwa mengerikan yang menimpa kaumnya, dia segera pergi meninggalkan Al Hijr menuju perkampungan di Arab.

Disana ia menceritakan seluruh apa yang dilihatnya. Karena tiba-tiba haus, dia meminta air putih kepada penduduk disana. Setelah meminum air, tiba-tiba dia tergeletak dan meninggal seketika menyusul kaumnya yang kafir dan durhaka ke neraka.

Hikmah:

Kisah kaum Tsamud adalah pengingat yang kuat tentang akibat dari kesombongan, penolakan, dan ketidaktaatan kepada Tuhan. Meskipun mereka diberikan mukjizat unta betina sebagai bukti kebenaran dari Nabi Shaleh, mereka justru memilih untuk membunuhnya, sebuah tindakan yang mencerminkan kerasnya hati dan penolakan mereka terhadap kebenaran. Hikmah yang mendalam dari kisah ini adalah bahwa keberadaan mukjizat tidak menjamin keimanan, terutama bagi mereka yang hatinya sudah buta oleh kesombongan.

Kaum Tsamud memiliki kemampuan untuk memahat gunung menjadi rumah yang megah, menunjukkan kekuatan dan kemajuan teknologi mereka. Namun, kemampuan material dan kekuasaan tidak bisa menyelamatkan mereka dari azab Tuhan ketika mereka melanggar perjanjian dan batas-batas moral. Kisah ini mengajarkan bahwa kehancuran suatu kaum sering kali datang dari dalam, yaitu dari kerusakan moral dan spiritual yang mengikis fondasi masyarakat, jauh sebelum kehancuran fisik terjadi.

Referensi:

Kitab Bidayah Wa An Nihayah Karya Ibnu Katsir