Mukjizat Nabi Uzair: Bangkit dari Kematian Setelah 100 Tahun Tertidur

Salah satu nabi yang pernah meninggal lalu hidup lagi untuk mengemban tugas dakwah

Ada beberapa pendapat mengenai nama asli Nabi Uzair. Ibn Asakir berkata bahwa nama aslinya Uzair bin Jarwah dan pendapat lain mengatakan nama aslinya yaitu Uzair bin Sarukha. Nabi Uzair pernah menjadi tawanan Raja Bukhtanasar/Nebukadnezar II saat usianya masih anak-anak. Setelah umurnya mencapai 40 tahun, Allah SWT mengaruniakan hikmah kepadanya.

Salah satu hal yang istimewa dari Nabi Uzair adalah kisahnya bangkit dari kematian setelah 100 tahun dimatikan oleh Allah. Bagaimana kisah lengkapnya? simak penjelasan di bawah ini!

1. Rutinitas sebagai petani

Seorang yang tengah bekerja di area persawahan

Pada suatu hari, Nabi Uzair pergi ke sawah untuk bekerja seperti biasanya. Dalam perjalanan, ia singgah di sebuah bangunan yang telah runtuh dan porak-poranda. Saat itu tengah hari, dan terik matahari mulai menyengat kulit.

Untuk berteduh, ia masuk ke dalam reruntuhan bangunan itu sementara ia masih menunggangi keledainya. Setelah masuk, ia turun dan membawa serta dua keranjang: satu berisi buah tin dan satu lagi berisi buah anggur.

Ia lalu duduk bersantai di bawah bayangan dinding yang masih berdiri, dan mengeluarkan bekal makanannya. Ia memeras buah anggur yang dibawanya ke dalam sebuah wadah, lalu mengambil roti kering dan mencelupkannya ke dalam sari anggur itu untuk dimakan.

Setelah makan, ia merebahkan badan. Lehernya disandarkan pada dinding, sementara kakinya diluruskan. Dari posisinya itu, matanya memandang langit-langit bangunan yang sudah hampir roboh dan seluruh keadaan di sekelilingnya. Ia melihat tembok-tembok yang telah jatuh menimpa atap, serta tulang-belulang manusia yang berserakan sisa-sisa penghuni kota yang telah musnah dan terlupakan.

Dalam hati, timbul sebuah pertanyaan yang sangat mendalam yang membuatnya tercenung: “Bagaimana mungkin Allah menghidupkan kembali negeri yang sudah hancur lebur seperti ini?”

2. 100 tahun telah meninggal

Bangunan terbengkalai dengan menampakkan kondisi kota yang terabaikan dari peradaban

Bukan berarti ia (Nabi Uzair) meragukan kekuasaan Allah untuk menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati. Rasa takjub dan pertanyaan yang timbul dalam hatinya murni berasal dari keinginan untuk memahami bagaimana prosesnya yang luar biasa itu terjadi.

Maka, sebagai jawaban sekaligus pelajaran, Allah mengutus seorang malaikat untuk mencabut nyawanya pada saat itu juga. Allah mematikannya selama seratus tahun penuh.

Selama satu abad itu, waktu terus berjalan. Di kalangan Bani Israil, telah terjadi begitu banyak peristiwa dan perubahan besar yang mengubah wajah masyarakat mereka. Nabi Uzair tertidur dalam kematiannya, menyaksikan tidak satu pun dari semua perubahan itu, terisolasi dari alur waktu.

BACA ARTIKEL LAIN:

3. Bangkit dan hidup kembali

Seorang berjubah putih tengah membersihkan badan dan kepalanya dari debu

Setelah 100 tahun berlalu, Allah mengutus seorang malaikat kepada Uzair. Malaikat itu pertama-tama mengembalikan akal dan pikiran Uzair agar jernih, lalu memulihkan penglihatannya sehingga ia dapat menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana kuasa Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati.

Saat itu, Uzair menyaksikan sebuah proses yang luar biasa: malaikat tersebut mulai menyusun tulang-belulangnya yang sudah berserakan, lalu membalutnya dengan daging, urat, rambut, dan kulit hingga jasadnya utuh kembali. Setelah jasadnya sempurna, malaikat meniupkan ruh ke dalamnya. Seluruh proses kebangkitan ini disaksikan langsung oleh Uzair, dan ia pun mulai merenung dan berpikir.

Setelah semua selesai, Uzair bangkit dan duduk. Lalu malaikat bertanya kepadanya, “Sudah berapa lama engkau tinggal di tempat ini?”

Uzair, yang merasa hanya sebentar saja, menjawab, “Saya tinggal di sini mungkin hanya sehari, atau bahkan setengah hari.” 

Ia mengira dirinya hanya tidur siang dan bangun sebelum matahari terbenam.

Ia pun bersumpah, “Saya yakin hanya tinggal setengah hari, tidak sampai satu hari penuh.”

4. Menghidupkan kembali keledai dan mengembalikan makan siang

Seekor keledai yang duduk meringkuk di bawah bangunan terbengkalai

Malaikat itu kemudian berkata, “Sesungguhnya engkau telah tinggal di sini selama seratus tahun.”

Kemudian malaikat menunjuk kepada makanan dan minuman Uzair: roti kering dan sari anggur yang diperasnya tadi masih tetap utuh, tidak berubah sama sekali, seolah baru ditinggalkan beberapa saat lalu. Buah tin dan anggurnya juga masih segar, persis seperti kondisi semula.

Dalam hatinya, Uzair masih merasa sulit mempercayai hal itu. Melihat keraguan dalam diri Uzair, malaikat pun berkata, “Apakah engkau masih meragukan apa yang kukatakan kepadamu?”

Lalu malaikat mengajaknya untuk melihat keledainya yang telah menjadi tulang belulang, berserakan dan hampir hancur. Malaikat itu berseru kepada tulang-belulang keledai itu. Seketika, tulang-belulang itu berhamburan datang dari segala penjuru, menyatu kembali.

Malaikat lalu menyusunnya menjadi kerangka utuh, kemudian menumbuhkan daging, bulu, dan kulitnya. Setelah jasadnya sempurna, malaikat meniupkan ruh ke dalamnya. Seketika itu juga, keledai itu hidup kembali. Ia bangkit, mengangkat kepala, dan menggerakkan telinganya ke arah langit, seolah mengira bahwa hari kiamat telah tiba.

5. Semua orang melupakannya

Seorang berjubah putih berjalan di tengah-tengah warga

Lalu, Uzair menaiki keledainya dan pergi menuju rumahnya. Namun, ketika tiba di tempat itu, ia mendapati bahwa tidak ada seorang pun yang mengenalinya, dan ia pun tidak mengenali wajah-wajah orang di sekitarnya.

Akhirnya, Uzair sampai di rumah lamanya. Di sana, ia menemukan seorang wanita tua buta berusia 120 tahun yang sedang duduk sendirian. Wanita itu dulunya adalah budak setia keluarga Uzair. Uzair meninggalkan kaumnya ketika wanita tersebut masih berusia 20 tahun. Seiring waktu, usia tua membuatnya pikun dan kehilangan ingatan.

Setelah wanita tua itu memperhatikan dengan saksama wajah Uzair, ingatannya pun pulih secara perlahan. Ia teringat bahwa Uzair telah menghilang selama 100 tahun. Wanita itu berkata, “Engkau adalah Uzair, orang yang doanya selalu dikabulkan Allah.”

Kemudian, wanita tua itu memohon kepada Uzair untuk mendoakannya agar penglihatannya yang buta disembuhkan. Uzair pun berdoa kepada Allah, lalu mengusap kedua mata wanita itu dengan tangannya. Seketika itu juga, penglihatannya pulih dan ia dapat melihat kembali.

Tak berhenti di situ, Uzair juga memegang tangan wanita itu dan mendoakannya agar kaki dan tangannya yang lemah disembuhkan. Wanita itu pun kembali sehat secara sempurna, seolah tidak pernah menderita sakit sama sekali.

BACA ARTIKEL LAIN:

6. Memperbarui Kitab Taurat

Seorang berjubah putih tengah menyusun robekan-robekan perkamen

Setelah kembali ke masyarakat, Nabi Uzair berusaha membuktikan identitasnya. Anaknya yang masih hidup setelah 100 tahun memberitahu orang-orang bahwa ayahnya memiliki tanda hitam di antara kedua pundaknya sebagai tanda kenabian. Ketika Uzair membuka bajunya, tanda itu benar-benar terlihat, dan masyarakat mulai percaya.

Kemudian, Bani Israil mengeluh bahwa Kitab Taurat telah hilang setelah dihancurkan oleh Raja Nebukadnezar (Bukhtanasar), dan hanya segelintir orang yang masih menghafalnya. Mereka meminta Nabi Uzair untuk menulis ulang Taurat.

Uzair teringat bahwa ayahnya, Sarukha, pernah menyembunyikan naskah asli Taurat dengan menguburnya di sebuah tempat rahasia yang hanya diketahui oleh mereka berdua. Uzair pergi ke tempat tersebut, menggali, dan menemukan naskah Taurat yang sudah lapuk dan tulisan yang hampir hilang.

Dengan izin Allah, Uzair duduk di bawah pohon dan mulai menulis ulang Taurat. Bani Israil berkumpul mengelilinginya. Tiba-tiba, dua anak panah cahaya dari langit masuk ke tenggorokannya, memberinya kekuatan untuk mengingat dan menuliskan seluruh Taurat tanpa salah.

Dikatakan bahwa peristiwa ini terjadi di daerah As-Sawāt, di rumah Hizkil, dan Nabi Uzair wafat di Sayar Abadz.

Catatan Penting:

  1. Kisah ini tidak tercatat dalam Al-Qur’an atau Hadis sahih — ini adalah bagian dari riwayat Israiliyat yang tidak dapat diverifikasi kebenarannya.
  2. Dalam Islam, Taurat diyakini sebagai kitab yang diturunkan kepada Nabi Musa, dan bukan hasil tulisan ulang manusia.
  3. Menurut Wahb bin Munabbih, “anak panah dari langit” adalah metafora yang mungkin merujuk pada ilham atau mukjizat dari Allah.

Hikmah:

Dari kisah Nabi Uzair, kita dapat mengambil hikmah bahwa kekuasaan Allah Maha Mutlak atas hidup dan mati, serta waktu bahkan seratus tahun baginya hanyalah seperti setengah hari. Kisah ini juga mengajarkan bahwa ilmu dan wahyu Allah tidak pernah hilang, karena Dia akan selalu memunculkan orang yang dipilih-Nya untuk menjaga dan mengajarkan kebenaran, meski segala sesuatu tampak telah hancur dan terlupakan.

Referensi:

Bidayah Wa An Nihayah karya Ibnu Katsir

Achmad Haris

Hanya mas-mas yang suka nulis dan buat konten

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *