Memakan Bara Api Hingga Menangis Dalam Kuburan: Peristiwa Unik Pra-Kenabian
Apa jadinya kalau mukjizat itu sudah ada sebelum dilantik jadi nabi?
Sebelum menjabat sebagai Nabi dan Rasul, tanda-tanda kenabiannya sudah mulai terlihat bahkan sebelum mereka lahir. Hal ini bukan tanpa alasan mengingat Allah SWT menjaga beliau-beliau ini dari dosa.
Ada beberapa kisah menarik perihal para Nabi baik di usianya yang masih kecil hingga menginjak dewasa. Kisah apa yang dimaksud? simak penjelasannya di bawah ini!
1. Nabi Yahya menangis dalam kuburan

Seorang anak kecil sedang menangis di dalam sebuah lubang galian. (image by gemini)
Diriwayatkan dari Ibnu Mubarak, bahwasanya Wahab bin Munabbih berkata: Nabi Zakariya pernah kebingungan mencari anaknya yang hilang selama 3 hari 3 malam. Sampai Nabi Zakariya tiba di sebuah tempat yang mirip seperti pemakaman.
Setelah beliau mengelilingi pemakaman tersebut, ada 1 makam yang terlihat galiannya belum selesai. Disana beliau merasa kaget karena anaknya yang ia cari selama 3 hari ternyata berada di dalam kuburan tersebut yang ternyata digalinya sendiri.
Nabi Yahya kecil menggali sendiri kuburan tersebut, masuk ke dalamnya, dan menangis terus menerus selama 3 hari. Alasannya adalah Nabi Yahya teringat ucapan ayahnya bahwa diantara Surga dan Neraka ada sebuah urusan yang tak akan bisa dipatahkan kecuali hanya dengan tangisan air mata.
Mendengar penuturan putranya, beliau mengangkat Nabi Yahya kecil ke permukaan dan menangis bersamanya.
2. Nabi Musa Memakan Bara Api

Tangan seorang bayi yang terlihat akan meraih potongan buah-buahan yang diletakkan di samping sepiring bara api. (image by gemini)
Pernah suatu ketika Musa kecil digendong dan ditimang-timang oleh Fir’aun. Saat Fir’aun mendekatkan wajahnya agar disentuh bayi yang ditimangnya, Nabi Musa justru menarik jenggot Fir’aun dengan amat kencang.
Fir’aun jelas marah dan meletakkan bayi tersebut ke tempatnya. Segera, dia menyuruh pengawalnya untuk segera membunuh si bayi. Namun, Asiyah binti Muzahim (istri Fir’aun) mencegahnya dengan alasan tingkah bayi memang seperti itu.
Pikiran Fir’aun yang sudah kemana-mana karena dihantui mimpi buruknya yang kelak kekuasaannya akan diruntuhkan oleh anak laki-laki dari Bani Israil jelas merasa jengah.
Untuk menguji apakah Musa kecil memang anak yang diramalkan, Fir’aun menyuguhkan sepiring buah dan bara api. Jika Musa memilih buah, maka jelas dia sudah menunjukkan tanda-tanda kenabian dan akalnya sudah hidup. Namun jika memilih bara api, maka nggak ada bedanya dengan bayi yang lain.
Saat Nabi Musa akan mengambil buah, Allah menyelamatkannya dengan menggeser tangannya untuk memegang bara api dan memasukkannya ke dalam mulutnya. Alhasil, Nabi Musa mengalami cacat pada lidahnya karena telah memakan bara api.
3. Runtuhnya berhala ketika Nabi Isa lahir

Berhala yang mengalami keretakan. (image by gemini)
Wahab bin Munabbih menyebutkan bahwa ketika Isa dilahirkan, segala jenis patung yang dibuat sesembahan mulai dari ufuk barat hingga timur berjatuhan.
Setan kebingungan karena terjadi perkara hebat di alam mereka. Iblis memberitahunya bahwa seorang Nabi Isa telah lahir di kamar ibunya (Maryam) dan para malaikat mengelilinginya sebagai proteksi agar tak ada setan yang mengganggu.
Baca artikel lainnya:
- Malaikat Zabaniyah: Kengerian Sang Penyiksa Alam Neraka
- 6 Hal dari Malaikat Maut: Rahasia Pencabutan Ruh dan Keajaiban Penciptaannya
- Padang Tih: Kisah Bani Israil yang Pengecut Dibuang ke Padang Pasir Tanpa Bisa Keluar
- Mukjizat Nabi Uzair: Bangkit dari Kematian Setelah 100 Tahun Tertidur
- Kanibalisme: 6 Fenomena Aneh & Memilukan yang Terlupakan dari Sejarah Bani Abbasiyah Era An Nashir
4. Nabi Isa jadi detektif

Seorang pura-pura buta yang duduk di pinggir jalan. (image by gemini)
Nabi Isa tergolong anak paling cerdas dan mampu menangkap detail-detail kecil di sekitarnya.
Pernah suatu ketika beberapa saudagar yang sedang lewat di depan rumah pengungsian terlihat kebingungan mencari sesuatu yang ternyata diantara salah satu temannya ada yang kehilangan uang.
Kebingungan mereka bertambah saat hanya mendapati di dalam rumah tersebut hanya ada orang miskin, kaum gembel, orang-orang lemah, dan berpenyakitan.
Setelah Isa kecil mengetahui kasus tersebut, beliau segera membawakan semacam tempat duduk ke salah satu orang buta disana. Nabi Isa menyuruh untuk membawa tempat duduk ini dan memasukkannya ke dalam saku.
Si buta jelas menolaknya karena tidak mungkin melakukannya. Nabi Isa kemudian menjawabnya dengan sanggahan bahwa si buta bisa saja membawanya secara diam-diam seperti dia mengambil uang dari salah satu saudagar. Si buta akhirnya pun mengaku bahwa dialah yang mengambil uangnya.
5. Setan tak mampu mencuri berita langit setelah Nabi Muhammad SAW lahir

Sesosok setan yang terlihat mencuri informasi di langit. (image by gemini)
Ada 2 pendapat yang sama-sama kuatnya perihal Nabi Muhammad SAW. Pendapat pertama mengatakan bahwa Nabi Muhammad SAW lahir dalam keadaan sudah di khitan (sirah nabawiyah). Pendapat kedua mengatakan bahwa yang meng-khitan Nabi SAW adalah Abdul Muthalib setelah 7 hari kelahiran beliau.
Aminah melihat cahaya yang ikut keluar mengiringi kelahiran Nabi Muhammad. Cahaya tersebut menerangi istana-istana negeri Syam (Musnad Ahmad).
Berhala-berhala berjatuhan, istana Raja Kisra dilanda gempa hebat, sampai Api Persembahan kaum majusi yang berada di atas menara persia padam. Padahal api tersebut sudah menyala ribuan tahun. (keterangan ini tidak mencapai derajat shahih).
Pasca kelahiran Nabi Muhammad SAW., pintu-pintu langit ditutup dan setan tak bisa mencuri berita langit lagi. Jika masih berani mencuri dengar, maka panah-panah api akan mengejarnya. (HR. Tirmidzi)
Hikmah:
Sebelum Nabi Muhammad ï·º menerima wahyu, banyak peristiwa menakjubkan yang menandai persiapannya menjadi Rasul. Sejak kecil, beliau hidup penuh keberkahan, dadanya pernah dibelah malaikat untuk disucikan, dan Allah menjaganya dari perilaku jahiliyah. Setiap mimpi yang dialaminya selalu benar, dan seorang rahib pun mengenali tanda kenabiannya saat beliau berdagang. Dari kisah ini kita belajar bahwa kemuliaan lahir dari hati yang bersih, akhlak terjaga, dan kejujuran, sehingga kita pun sepatutnya meneladani sifat-sifat mulia beliau dalam kehidupan sehari-hari.
Referensi:
Qishasul Anbiya’ karya Ibnu Katsir
The Great Story of Muhammad karya Ahmad Hatta





