Kanibalisme: 6 Fenomena Aneh & Memilukan yang Terlupakan dari Sejarah Bani Abbasiyah Era An Nashir

Terjadi fenomena kelaparan parah ketika pemerintahan Khalifah An Nashir

Nama aslinya yaitu Abu Al Abbas bin Al Mustadhi’ Biamrillah dan mendapat gelar An Nashir Lidinillah (Penolong Agama Allah). Lahir pada hari Senin, 10 Rajab 553 H. Ibunya adalah seorang mantan budak bernama Zamrud. An Nashir adalah khalifah yang begitu menyukai bidang hadits hingga dirinya mendapatkan sebuah lisensi/ijazah dalam meriwayatkan hadits. Uniknya, banyak orang yang meriwayatkan hadits darinya namun hanya untuk dipamerkan saja.

Di zaman pemerintahannya, keadaan begitu stabil dan rakyat sejahtera. Namun, di masa pemerintahannya pula banyak tragedi dan kejadian unik serta aneh. Apa saja kejadian yang dimaksud? baca selengkapnya!

1. Tuduhan Khalifah bersekutu dengan jin

Seorang khalifah yang tengah berbicara dengan jin dari balik tirai

Riwayat 1

Seorang utusan dari Mazindaran tiba di Baghdad dengan penuh rahasia yang ia simpan. Anehnya, setiap pagi ia selalu mendapat laporan rinci tentang apa yang ia lakukan di malam sebelumnya hal-hal yang seharusnya tidak ada seorang pun yang tahu.

Puncaknya terjadi pada suatu malam, ketika seorang perempuan masuk melalui pintu tersembunyi. Ia membawa selembar kertas dengan pesan ganjil: “Kalian memiliki sebuah peti, dan di dalamnya terdapat gambar seekor gajah betina.”

Pesan itu membuat sang utusan pucat pasi. Rahasianya benar-benar terbongkar. Ia segera meninggalkan Baghdad, dengan keyakinan bahwa khalifah memiliki pengetahuan ghaib. Baginya, pengalaman itu menjadi bukti nyata akan kekuatan tersembunyi yang diyakini sebagian kaum Syiah Imamiyah bahwa seorang imam makshum mampu menyingkap rahasia terdalam, bahkan yang tersembunyi di balik dinding dan di dalam rahim.

Riwayat 2

Pada suatu saat seorang utusan datang dari Khawarizm Syah dengan sepucuk surat yang disembunyikan, dan satu surat yang di stempel. Ketika utusan itu sampai di hadapan khalifah dia berkata, “Kembalilah engkau karena kami telah tahu apa yang kalian mau!”

Akhirnya orang itu pulang, sedangkan dia menyangka bahwa orang-orang di tempat itu mengetahui yang ghaib.

Adz-Dzahabi berkata, “Dikatakan bahwa sesungguhnya An-Nashir dalam melaksanakan tugas-tugasnya banyak dibantu oleh pasukan jin.”

2. Serangan alam karena berani menyerang Baghdad

Pasukan pemberontak yang diterjang bencana alam

Ketika Khawarizm Shah berhasil mengukuhkan kekuasaannya di Khurasan dan Asia Tengah, ia mulai memerintah dengan arogan dan zalim. Ia menindas rakyatnya, menyiksa banyak orang, dan secara terbuka menunjukkan pembangkangannya dengan berhenti mendoakan Khalifah Bani Abbas dalam khutbah-khutbahnya.

Puncak dari pemberontakannya adalah ketika ia memutuskan untuk menyerang Baghdad. Namun, saat pasukannya tiba di Hamadan, mereka dihadang oleh badai salju yang sangat lebat selama dua puluh hari. Tumpukan salju tebal menutup semua jalan dan memaksa mereka berhenti. Melihat kejadian luar biasa ini, sebagian penasihatnya berkata, “Sesungguhnya ini adalah bentuk kemarahan Tuhan kepadamu karena rencanamu untuk memberontak melawan pemerintahan yang sah dengan menyerbu istana khalifah.”

BACA ARTIKEL LAIN:

3. Penyakit batu ginjal

Para tabib yang bekerja keras di atas meja operasi kuno

Menurut catatan Syamsuddin Al-Jazari, Sultan An-Nashir memiliki prosedur yang sangat rumit untuk air minumnya. Air tersebut diambil dari sumber yang sangat jauh berjarak 7 farsakh/38 km (1 farsakh = 5,5 km) dan diangkut menggunakan hewan pengangkut.

Sebelum diminum, air itu harus melewati proses pemurnian yang panjang, mulai dari direbus sebanyak 7 kali/satu kali setiap hari. Setelah itu, airnya disimpan lagi selama tujuh hari di dalam wadah khusus.

Namun ironisnya, kematiannya justru disebabkan oleh air yang ia minum tiap hari dengan proses panjang di atas. Air tersebut ternyata telah dicampur dengan sejenis obat bius yang mengganggu saluran kemihnya hingga menderita penyakit batu ginjal. Khalifah An-Nashir akhirnya meninggal dunia pada hari Ahad di akhir bulan Ramadhan tahun 622 H.

4. Kiamat besar

Bencana alam topan dahsyat

Pada tahun 582 H, tersebar sebuah kabar mengenai fenomena astronomi langka di mana planet-planet diperkirakan akan berada dalam posisi sejajar. Berdasarkan peristiwa ini, para ahli nujum dan peramal menyebarkan ramalan bahwa akan terjadi bencana alam yang dahsyat berupa badai topan yang akan menghancurkan seluruh negeri layaknya kiamat.

Ramalan tersebut memicu kepanikan massal. Banyak orang yang ketakutan mulai menggali lubang perlindungan bawah tanah, lalu mengisinya dengan persediaan makanan dan air yang cukup. Untuk meningkatkan rasa takut, para peramal bahkan mengatakan bahwa badai tersebut akan sehebat angin yang pernah membinasakan kaum ‘Aad.

Pada malam yang diramalkan yaitu malam tanggal 9 Jumadil Akhir, orang-orang menunggu dengan cemas di tempat persembunyian mereka. Akan tetapi, ramalan itu sama sekali tidak terbukti. Tidak ada bencana apa pun terjadi, bahkan angin pun tidak berembus sedikit pun, sampai-sampai nyala api lilin pun tidak goyah.

BACA ARTIKEL LAIN:

5. Angin hitam & Meteorit

Sebuah meteor jatuh dan angin hitam aneh yang memenuhi langit

Peristiwa Tahun 592 H

Pada tahun 592 H, terjadi serangkaian fenomena alam yang tidak biasa. Sebuah badai gelap yang membawa debu hitam dilaporkan melanda Makkah, dan peristiwa serupa juga terjadi di berbagai belahan dunia. Selain itu, turun pula hujan pasir berwarna merah. Akibat cuaca ekstrem ini, sebagian dinding Rukun Yamani (salah satu sudut Ka’bah) runtuh.

Peristiwa Tahun 593 H

Setahun berikutnya, pada tahun 593 H, sebuah benda langit yang tampak seperti bintang besar jatuh ke bumi. Peristiwa itu menghasilkan suara dentuman yang sangat keras hingga menggetarkan rumah-rumah penduduk. Masyarakat yang dilanda kepanikan serentak memanjatkan doa bersama untuk memohon pertolongan, karena banyak yang mengira bahwa kejadian tersebut adalah pertanda datangnya hari kiamat.

6. Makan bangkai manusia bahkan bangkai anaknya sendiri

Seseorang yang nampak memasukkan gumpalan hitam ke mulutnya dan di sekitarnya banyak kuburan yang dibongkar

Pada tahun 596 Hijriah, sebuah malapetaka mengerikan melanda Mesir. Sungai Nil, nadi kehidupan yang legendaris, yang biasanya mengalir deras dengan kedalaman tiga belas depa, berubah menjadi hamparan tanah retak yang tandus. Kematian sungai itu memicu bencana kelaparan paling dahsyat yang tercatat dalam sejarah.

Kelaparan yang begitu keji telah melucuti rasa kemanusiaan. Penduduk yang terjebak dalam derita, bukan sekadar memakan bangkai binatang, tetapi nekat melahap sesamanya yang telah menjadi mayat. Kabar tentang kanibalisme bukan lagi isapan jempol, melainkan kenyataan pahit yang begitu masyhur dan memilukan.

Namun, puncak kengerian itu terjadi ketika gerombolan orang yang sudah tak waras berbondong-bondong menerobos kuburan. Dengan tangan gemetar dan mata yang dipenuhi kegilaan, mereka menggali kuburan untuk menyambung nyawa dengan memakan daging orang-orang yang telah membusuk di dalam liang lahat.

Keadaan rakyat Mesir saat itu ibarat lukisan nyata dari neraka dunia. Setiap jengkal tanah menyaksikan kelaparan yang merajalela. Jalanan bukan lagi untuk berlalu lalang, melainkan hamparan kuburan massal yang dipenuhi mayat-mayat bergelimpangan dan orang-orang yang sedang meregang nyawa, menunggu ajal menjemput dalam kesakitan yang tiada berujung.

Tragedi itu merata hingga ke pelosok desa. Suasana kampung-kampung sunyi dan mencekam. Hampir tidak ada lagi asap mengepul dari dapur; tanda bahwa tidak ada lagi makanan yang dimasak. Yang tersisa hanyalah rumah-rumah dengan pintu terbuka lebar, menyisakan kesunyian, karena para penghuninya telah menjadi mayat.

Imam Adz-Dzahabi mengisahkan sebuah gambaran yang begitu menghantui dan mampu membuat bulu kuduk siapa pun merinding. Beliau berkata, “Jalan-jalan berubah menjadi ladang kematian, dipenuhi oleh tubuh-tubuh tak bernyawa yang menjadi santapan mengerikan bagi burung-burung pemangsa dan binatang buas.” Anak-anak kecil yang masih tersisa terpaksa mengais recehan untuk bertahan hidup dalam jumlah yang sangat tidak berarti.

Lembaran kelam ini terus berlangsung, menyelimuti Mesir dalam kepedihan yang tak kunjung usai, hingga akhirnya berangsur reda pada tahun 598 H.

Hikmah:

Peristiwa kekeringan Sungai Nil pada tahun 596 H bukan hanya bencana alam, melainkan sebuah malapetaka kemanusiaan yang menghancurkan. Bencana ini menyapu seluruh lapisan masyarakat, dari kota hingga pelosok desa, dan melucuti batas-batas peradaban, mendorong orang untuk melakukan hal yang tak terbayangkan seperti kanibalisme demi bertahan hidup.

Referensi:

Tarikh al Khulafa’ karya Imam Jalaludin As Suyuthi

Achmad Haris

Hanya mas-mas yang suka nulis dan buat konten

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *