Misteri Setiap 100 Tahun: Dari Tragedi Al Hajjaj Hingga Kerusuhan Qaramithah
Catatan Ibn Hatim tentang misteri sejarah islam tiap 100 tahun
Abu Muhammad Abdurrahman bin Muhammad Abi Hatim al-Razi atau lebih masyhur disebut sebagai Ibn Hatim memberi sebuah kutipan dalam kitab tafsirnya. Kutipan tersebut mengatakan bahwa sejak dunia diciptakan, tak pernah berlalu seratus tahun tanpa hadirnya peristiwa besar yang mengguncang kehidupan manusia. Di setiap pergantian abad, selalu ada kejadian luar biasa sebagai tanda kekuasaan Allah yang menggugah hati dan mengingatkan manusia akan kefanaan dunia.
Apa saja kejadian-kejadian yang dimaksud? simak penjelasan di bawah ini!
1. Tragedi Al Hajjaj: Gubernur Bani Umayyah Paling Rusak
Seorang gubernur arab kuno yang memimpin pasukan tempur lengkap dengan berbagai alat pengepung
100 tahun pertama setelah berdirinya islam, ada banyak tragedi yang terjadi di era Al Hajjjaj
Al Hajjaj adalah seorang gubernur era kekhalifahan Bani Umayyah. Wataknya keras, sangat loyal kepada khalifah, menjunjung tinggi martabat khalifah, dan menjadi gubernur dengan kemajuan pembangunan di wilayah yang dibawahinya. Jasanya yang paling besar yaitu merenovasi Ka’bah hingga membuatkan Qishwah seperti sekarang. Namun, di balik itu semua, Al Hajjaj juga punya riwayat kelam selama memerintah. Riwayat kelamnya yaitu:
- Mengeksekusi SaÃd bin Jubair, seorang Tabi’ïn yang sangat dihormati di Madinah hanya karena dia tidak mau mengakui bai’at dan kekhalifahan Bani Umayyah;
- Melempari kota Mekah dengan batu berapi menggunakan Menjanik/alat pengepung hingga Qishwah Ka’bah terbakar;
- Tragedi Al Harrah. Pada tahun 63 H, Yazid bin Muawiyah mengirim hajjaj beserta ribuan pasukan ke Kota Madinah dengan membawa belasan menjanik. Tujuannya jelas, untuk mencari Abdullah bin Zubair dan menumpas seluruh kroni-kroninya. Sesampainya di kota bernama Al Harrah, terjadilah Genosida mengerikan dimana sebagian besar penduduk Al Harrah dimusnahkan, ribuan wanita diperkosa, dan keadaan kota sangat kacau. Setelah itu, pasukan Hajjaj baru bergerak ke Mekkah dan menghujaninya dengan batu berapi untuk memaksa Ibnu Zubair keluar dari persembunyiannya.
